
OLEH
SUMAYYAH NANDA ALFIANI
NIM : 2021310004
(ASAL BANGKA BARAT,KEPULAUAN BANGKA
BELITUNG)
DOSEN PENGAMPU
Muhammad
Saeful Ulum,S.Sos,.M.Sos
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikumWr.
Wb.
Puji dan syukur
marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah banyak memberikan
beribu-ribu nikmat kepada kita umatnya. Rahmat beserta salam semoga
tetap tercurahkan kepada jungjunan kita, pemimpin akhir zaman yang sangat
dipanuti oleh pengikutnya yakni Nabi Muhammad SAW. “MODUL PEMIKIRAN FILSAFAT” ini sengaja di bahas karena
sangat penting untuk kita khususnya sebagai mahasiswa yang ingin lebih mengenal
mengenai ilmu filsafat .
Selanjutnya,
penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan
pengarahan-pengarahan sehingga kami
dapat menyelesaikan modul ini dengan
tepat waktu. Tidak lupa juga kepada bapak dosen dan teman- teman yang lain untuk memberikan sarannya kepada kami
agar penyusunan makalah ini lebih baik lagi.
Demikian, semoga paper ini bermanfaat khususnya bagi
penyusun dan umumnya semua yang membaca makalah ini.
Wassallamu’alaikum Wr. Wb.
Bandung, Februari 2023
Penyusun
Sumayya Nanda Alfiani
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk
ciptaan Allah yang paling sempurna
karena dia diberi akal. Akal inilah
yang membedakan antara
manusia dengan makhluk lainnya,
membedakan manusia dengan
binatang. Dengan akalnya manusia berpikir,
bahkan sering dijumpai
dalam komunikasi sehari-hari
muncul istilah "orang itu tidak punya pikiran", ini sebagai analogi
bahwa pikiran sama dengan akal.
Dengan
akalnya manusia mencari tahu. Inilah asal mula pengetahuan, yaitu adanya
keingintahuan manusia. Ketika manusia
berpikir, dari mana dia ada, untuk apa dia ada, dan ke mana setelah tiada?
Pertanyaan-pertanyaan ini sulit dijawab dengan segera dan spontan, tetapi
membutuhkan pemikiran secara mendalam, membutuhkan perenungan. Ada jawaban yang
diberikan oleh agama dan manusia langsung percaya, barulah kemudian dipikirkan.
Cara memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diperoleh melalui
pengetahuan, ilmu, dan filsafat. Jawaban yang hakiki membutuhkan pemikiran
filsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam tentang segala sesuatu
–atau sering disebut realitas- sejauh akal manusia dapat menjangkaunya
Sebagai
calon sarjana Ilmu Komunikasi, Anda tidak hanya dibekali pengetahuan tentang
ilmu komunikasi saja, artinya Anda belajar komunikasi tidak berhenti pada
tatanan ilmu saja. Akan tetapi Anda diperkenalkan tentang apa itu pemikiran
filsafat komunikasi. Mempelajari filsafat akan membantu Anda mengerti,
memahami, dan menghayati arti hidup dan kehidupan ini secara lebih mendalam.
Apabila diibaratkan dengan suatu gedung, ilmu adalah konstruksi dari bangunan,
sedangkan filsafat adalah fondasi dari gedung tersebut.
Modul
ini berisikan beberapa pokok kegiatan
belajar, yaitu Tema kelompok Filsafat
1.
Pemikiran Filsafat Ibnu Sina dan Ibnu Bajjah
2.
Pemikiran Filsafat Suhrawardi dan Ibnu Thufail
3.
Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd dan
Nasiruddin Ath Thusi
4.
Pemikiran Filsafat ibnu Ikhwan Ash Shafa
dan Mulla Shadra
5.
Pemikiran Filsafat Muhammad Iqbal dan Ibnu Arobi dan corak pemikirannya.
Secara
umum tujuan dari modul ini adalah memberikan pengertian dan pemahaman tentang Pemikiran
filsafat beberapa Ahli. Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan dapat
mengerti dan memahami tentang: Pemikiran Filsafat tokoh-tokoh di atas.
1.
Pemikiran Filsafat Ibnu Sina dan Ibnu Bajjah
Tidak ada sejarah intelektual di dunia Islam yang begitu mengharu
biru selain sejarah filsafat, baik yang bersifat filsafat murni maupun yang
berwujud dalam sistem tasawuf falsafi. Di satu sisi sumbangannya terhadap
kegemilangan peradaban Islam tidak bisa dipungkiri, tetapi di sisi lain,
filsafat juga dianggap sebagai unsur luar yang mengacak acak ajaran Islam.
Kalau antara fiqh dan ilmu kalam masih bisa bergandengan, maka perseteruan
antara fiqh dan filsafat telah melahirkan sekian klaim pengafiran, bahkan lebih
dari itu, juga pembunuhan. Bisa jadi ini karena watak khas filsafat itu
sendiri. Filsafat apapun nama dan bentuknya, adalah keberanian untuk
mempertanyakan kebenaran-kebenaran yang dalam pandangan umum telah diyakini
kebenarannya. Akan tetapi, apapun hasilnya dan apapun penilaian orang terhadap
upaya-upaya yang dilakukan oleh para filsuf muslim, mereka telah mencurahkan
tenaga dan pikirannya untuk membuat sintesa yang harmonis antara agama dan
filsafat sehingga pikiran-pikiran filsafat memperoleh tempat yang layak di
dunia Islam.[1]
Salah satu dari Filsuf Islam tersebut adalah Ibn Sina, dalam sejarah
pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal
dibicarakan oleh banyak orang, sedang diantara para filosof muslim ia tidak
hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa
modern. Ia adalah satu-satunya filosof besar Islam yang telah berhasil
membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah
mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad. [2]
Pengaruh ini
terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia
miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius
dalam menemukan metode-metode dan alasan-alasan yang diperlukan untuk
merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme
yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.[3]
A.
PEMIKIRAN FILSAFAT IBN SINA
1.
Metafisika
Berkaitan dengan metafisika, Ibn Sina juga membicarakan Sifat
wujudiah sebagai yang terpenting dan mempunyai kedudukan diatas segala sifat
lain, walaupun esensi sendiri. Esensi dalam faham Ibn Sina terdapat dalam akal,
sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang
dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud esensi tidak besar
artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Tidak mengherankan
kalau dikatakan bahwa Ibn Sina telah terlebih dahulu mengajukan filsafat
wujudiah dari filosof-filosof lain. Kalau dikombinasikan, esensi dan wujud
dapat mempunyai kombinasi berikut :
1)Esensi yang tak dapat mempunyai
wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibn Sina yaitu sesuatu yang
mustahil berwujud (Impossible being), Contohnya, adanya sekarang ini
juga kosmos lain disamping kosmos yang ada.
2)Esensi yang boleh mempunyai wujud
dan boleh tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut “Mumkin” yaitu
sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contoh,
alam ini yang pada mulanya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya akan hancur
menjadi tidak ada.
3)Esensi yang tidak boleh tidak
mesti mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud; esensi
dan wujud adalah sama dan satu.[4]
Tuhan adalah Wujud pertama yang immateri dan dari-Nyalah memancar
segala yang ada. Tuhan sebagai al-wujud al-Awwal berfikir tentang
diri-Nya, lalu dari pemikiran itu timbullah wujud kedua yang disebut akal
pertama. Akal pertama ini mempunyai tiga objek pemikiran, yaitu Tuhan, diri-Nya
sebagai wajib al-wujud dan diri-Nya sebagai mumkin al-wujud. Pemikiran
akal pertama tentang Tuhan melahirkan akal-akal berikutnya sampai akal kesepuluh.
Demikianlah seterusnya , setiap akal yang jumlahnya sepuluh itu mempunyai tiga
objek pemikiran dan dari pemikiran akal inilah kemudian memancar alam ini.
Karena itu ia tidak menerima konsep penciptaan alam dari tiada menjadi ada, seperti yang difahami oleh teolog Islam.
Baginya alam ini qadim (tidak mempunyai permulaan dari segi waktu). Antara
tuhan dan terjadinya alam tidak terdapat kesenjangan waktu. Pendapat ini
mendapat tantangan keras dari al-Gazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah
(Kekacauan Para Filsuf). [5]
2.
Jiwa.
Jiwa manusia merupakan rahasia tuhan yang terdapat pada hamba-Nya
dan menjadi kebesaran Tuhan pada makhluk-makhluk-Nya serta teka-teki
kemanusiaan yang belum dapat dipecahkan dan barangkali tidak akan bisa
dipecahkan dengan memuaskan. Memang jiwa menjadi sumber pengetahuan
bermacam-macam dan tidak terbatas, tetapi bulum lagi diketahui hakikatnya
dengan segala keyakinan. Juga jiwa menjadi sumber pikiran-pikiran yang jelas,
namun sebagian besar pikiran-pikiran tentang jiwa diliputi oleh kegelapa dan
kerahasiaan, meskipun manusia sejak masa pertamanya sampai sekarang ini masih
selalu dan berusaha dan menyelidiki apa hakikatnya jiwa serta pertaliannya
dengan badan.[6]
Konsep Jiwa (an-nafs), menurut Ibn Sina terbagi menjadi
tiga: Jiwa tumbuhan, jiwa binatang, dan jiwa manusia. Jiwa tumbuhan memiliki
tiga daya: makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jiwa binatang memiliki dua daya:
daya bergerak dan daya menangkap. Daya bergerak dapat berbentuk marah, syahwat
dan berpindah tempat. Adapun daya menangkap terbagi dua: daya menangkap dari
luar dengan menggunakan indera-indera luar yang lazim disebut pancaindera,
terdiri atas: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan lidah, dan perasaan
tubuh; dan daya menangkap dari dalam melalui pancaindera batin, yaitu indera
bersama (al-hiss al-musytarak), indera penggambar (al-khayal),
indera pereka (al-mutakhayyilah), indera penganggap (al-wahamiah),
dan indera pengingat (al-hafizah). Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan dan
binatang jiwa manusia hanya mempunyai satu daya, yaitu daya berfikir yang
disebut akal. Akal terbagi dua; akal praktis (‘amilah) yang berhubungan
dengan hal-hal yang sifatnya konkret dan akal teoritis yang berhubungan dengan
hal-hal yang sifatnya abstrak. Akal teoritis mempunyai empat tingkatan , yaitu
1). Akal Materiil, yang beru merupakan potensi, untuk menangkap arti-arti
murni, arti-arti yang tak pernah berada dalam materi, (2). Akal bakat, yaitu
akal yang kesanggupannya berfikir secara murni
abstrak telah mulai nampak, (3). Akal aktual, yaitu akal yang telah
terlatih untuk menangkap arti-arti murni, dan (4). Akal perolehan, yaitu
tingkat akal yang tertinggi dan terkuat dayanya, yaitu akal yang didalamnya
arti-arti abstrak tersebut selamanyan sedia untuk dikeluarkan dengan mudah.
Akal serupa inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal
aktif (akal kesepuluh). Menurut penjelasan Ibn Sina, akal aktif itu adalah
Jibril.[7]
Ia menjelaskan bahwa sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari
ketiga jiwa itu yang berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa binatang dan
tumbuh-tumbuhan yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu dekat menyerupai
sifat-sifat binatang, sebaliknya jika jiwa manusia yang dominan berpengaruh,
maka orang itu dekat menyerupai sifat-sifat malaikat dan dekat pada
kesempurnaan. Jika jiwa manusia telah mempunyai kesempurnaan sebelum ia
berpisah dengan badan, maka ia akan memperoleh ksesenangan abadi diakhirat.
Sebaliknya, jika ia berpisah dengan badan dalam keadaan tidak sempurna akibat
terpengaruh oleh godaan hawa nafsu, maka ia akan sengsara selama-lamanya
diakhirat.[8]
3.
Kenabian.
Pendapat Ibn Sina tentang Nabi bertitik tolak dari tingkatan akal.
Akal materiil sebagai yang terendah adakalanya dianugerahkan Tuhan kepada
manusia akal materil yang besar lagi kuat, oleh Ibn Sina dinamakan al-Hadits
yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materi serupa ini begitu
besarnya sehingga tanpa melalui latihan, dengan mudah dapat menerima cahaya atau
wahyu dari Tuhan. Sejalan dengan Teori kenabian dan kemukjizatan, Ibn Sina
membagi manusia kedalam empat kelompok: mereka yang kecakapan teoritisnya telah
mencapai tingkat penyempurnaan yang sedemikian rupa sehingga mereka tidak lagi
membutuhkan guru sebangsa manusia, sedangkan kecakapan praktisnya telah
mencapai suatu puncak yang sedemikian rupa sehingga berkat kecakapan imajinatif
mereka yang tajam mereka mengambil bagian secara lagsung pengetahuan tentang
peristiwa-peristiwa masa kini dan akan datang dan berkemampuan untuk
menimbulkan gejala-gejala aneh diatas dunia. Kemudian mereka yang memiliki
kesempurnaan daya intuitif, tetapi tidak mempunyai daya imajinatif. Lalu
orang-orang yang daya teoritisnya sempurna tetapi tidak praktis. Terakhir
adalah orang-orang yang mengungguli sesamanya hanya dalam ketajaman daya
praktis mereka.[9]
B.PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU BAJJAH
Islam masuk di Andalusia (Spanyol) pada sekitar
permulaan abad-8 M. Masuknya Islam telah membuka cakrawala baru dalam sejarah
Islam. Dalam rentang waktu selama kurang lebih tujuh setengah abad, umat Islam
di Andalusia telah mencapai kemajuan yang pesat, baik di bidang ilmu
pengetahuan maupun kebudayaan. Berbagai disiplin ilmu berkembang pesat pada
masa itu. Hal ini ditandai dengan banyaknya bermunculan figur-figur ilmuwan
yang cemerlang di bidangnya masing-masing dan sampai sekarang, hasil pikiran
mereka menjadi bahan rujukan para akademisi, baik di Barat maupun di Timur.
Kemajuan peradaban di Andalusia pada saat itu berimbas pada bangkitnya
Renaisans dunia Barat pada abad pertengahan sehingga dapat dikatakan bahwa Arab
Spanyol adalah guru bagi Eropa dan Universitas Cordova, Toledo, sedangkan
Seville berfungsi sebagai sumber asli kebudayaan Arab, non-Arab, muslim,
Kristen, Yahudi, dan agama lain sampai beberapa abad kemudian.1 Salah satu
kemajuan yang dialami oleh umat Islam di Andalusia adalah di bidang filsafat.
Islam di Andalusia telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian
dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang
dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap
filsafat dan ilmu pengetahuan dikembangkan pada abad ke-9 M selama pemerintahan
penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd al-Rahman (832-886 M). Atas
inisiatif al-Hakam, karyakarya lmiah dan filosofis diimpor dari Timur dalam
jumlah besar, sehingga Cordova dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya
mampu menyaingi Baghdad sebagai pusat utama ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Pemikiran-Pemikiran Ibn Bajjah
Betapa pun sedikitnya informasi
mengenai aktivitas kefilsafatan dan keilmuan yang terjadi di Andalus, abad ke-11 tak
pelak telah menjadi saksi atas munculnya sejumlah ilmuwan yang meletakkan dasar bagi sebuah revolusi
ilmiah dan filosof yang genuine. Dan puncak dari revolusi
tersebut ialah hidupnya kembali
Aristotelianisme dan tersebarnya filsafat
Yunani-Arab ke
dunia Barat. Ibn Al-Imam, salah seorang murid Ibn Bajjah,
telah mentranskripsi sejumlah besar
tulisan Ibn Bajjah ihwal filsafat. Dalam transkripsi itulah dia membubuhkan sekilas sejarah hidup
Ibn Bajjah. Konstribusi Ibn Bajjah pada filsafat, tulis
Ibn Al-Imam, “Sungguh-sungguh mencengangkan (miraculous).” Sebelum beliau, lanjut
Ibn Al-Imam sembari mengutip sebait sajak, “mata seolah tak pernah melihat matahari terbit di Barat,” maksudnya di Andalusia.12
Sejak semula, Ibn Bajjah menempatkan dirinya di tengah arus utama tradisi
Neoplatonik-Peripatetik yang mula-mula
diperkenalkan ke alam pikiran Islam oleh al-Farabi. Bagi Ibn Bajjah, al-Farabi adalah satu-satunya guru logika,
politik, dan metafisika yang berasal
dari Timur.13 Filsafat Ibn Bajjah banyak terpengaruh oleh pemikiran Islam dari kawasan di Timur, seperti Al-Farabi14 dan Ibn Sina15. Hal ini disebabkan
kawasan Islam
![]()
12 Majid Fakhry, Sejarah...,
hlm. 99-100.
13 Ibid., hlm. 100
14 Beliau adalah Abu Nasr Muhammad
al-Farabi lahir di Wasij
suatu desa di Farab (Transoxania) tahun 870 M.
Sebelum di Aleppo beliau pernah
tinggal di Baghdad
selama 20 tahun.
Di Aleppo ia tinggal di Istana Saif al-Daulah, memusatkan
perhatian pada ilmu pengetahuan dan filsafat.
Dalam usia 80 tahun al-Farabi
wafat di Alepo pada tahun 950 M. Ia berkeyakinan bahwa
filsafat tidak boleh
dibocorkan dan sampai ke tangan orang awam. Karena itu, filosof-filosof harus menuliskan pendapat-pendapat atau filsafat
mereka
dalam
gaya
bahasa
yang samar, agar tidak dapat diketahui oleh
sembarang orang sehingga tidak mengganggu imannya.
Ia juga berkeyakinan bahwa agama dan filsafat
tidak bertentangan, malahan
sama-sama membawa kepada
kebenaran. Ia terkenal dengan
filsafat Emanasi (Pancaran). Sedangkan tentang teori politik ia memiliki
buku yang berjudul
Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah. Maftukhin, Filsafat Islam, (Yogyakarta: Teras, 2012), hlm. 97,
lihat juga Majid Fakhry, Sejarah..., hlm.
45. 15 Beliau adalah Abu Ali Husein
Ibn Abdillah Ibn Sina lahir di
Afshanah, di dekat Bukhara pada tahun 980 M.
Pada usia 16 tahun, ia sudah mampu belajar filsafat dan kedokteran
secara autodidak, bahkan mencapai
kedudukan istimewa sehingga banyak orang belajar kepadanya. Perhatian
Ibn Sina terpusat pada bidang metafisika dan logika, sebagaimana yang
tercermin pada luasnya kajian filosofis yang terdapat dalam al-Syifa, al-Isyarat, dan sebagainya. Ia meninggal dunia
di Hamadzan pada
usia 58 tahun
(1037
M). Zaprulkhan, Filsafat Islam:
Sebuah
Kajian Tematik,
di Timur lebih dahulu melakukan penelitian ilmiah dan kajian filsafat daripada kawasan
Islam Barat (Andalus). Untuk lebih jelasnya, di bawah ini kita akan
menelusuri beberapa pemikiran Ibn Bajjah.
1.
Metafisika (Ketuhanan)
Menurut Ibn Bajjah,
segala yang ada (al-maujudat) terbagi dua: yang bergerak dan tidak bergerak. Yang bergerak adalah jisim
(materi) yang sifatnya finite (terbatas).
Gerak terjadi dari perbuatan yang
menggerakkan terhadap yang digerakkan. Gerakan
ini digerakkan pula oleh gerakan yang lain, yang akhir rentetan gerakan ini digerakkan oleh penggerak yang tidak bergerak,
dalam arti penggerak
yang tidak berubah
yang berbeda dengan jisim (materi). Penggerak ini bersifat
azali. Gerak jisim mustahil timbul dari substansinya sendiri sebab ia terbatas.
Oleh karena itu, gerakan ini mesti
berasal dari gerakan yang infinite (tidak terbatas), yang oleh Ibn Bajjah disebut dengan ‘aql.
![]()
Kesimpulannya, gerakan alam ini—jisim yang terbatas— digerakkan oleh ‘aql (bukan berasal dari substansi alam sendiri). Sedangkan yang tidak bergerak ialah ‘aql, ia menggerakkan alam dan ia sendiri tidak bergerak. ‘Aql inilah yang disebut dengan Allah (‘aql, ‘aqil, dan ma’qul), sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina. Perlu diketahui bahwa para filosof Muslim pada umumnya menyebut Allah itu
adalah ‘aql. Argumen yang mereka majukan ialah Allah Pencipta
dan Pengatur alam yang beredar menurut natur rancangan-Nya, mestilah Ia
memiliki daya pikir. Kemudian
dalam mentauhidkan Allah semutlak- mutlaknya, para filosof Muslim
menyebut Allah adalah
Zat yang mempunyai daya pikir
(‘aql), juga berpikir (‘aqil) dan objek pemikirannya sendiri (ma’qul).
Keseluruhannya adalah zat-Nya yang
Esa. Sebagaimana Aristoteles, Ibn Bajjah juga mendasarkan filsafat metafisikanya pada fisika.
Argumen adanya Allah adalah dengan
adanya gerakan di alam ini. Jadi, Allah adalah azali dan gerakannya bersifat tidak terbatas. Di sinilah letak kelebihan
(Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 43.
Ibn Bajjah walaupun ia berangkat dari filsafat gerak
Aristoteles, namun ia kembali pada
ajaran Islam. Dasar filsafat Aristoteles ialah ilmu pengetahuan alam yang tidak mengakui adanya
sesuatu di balik alam empiris
ini. Kendatipun penggerak pertama berbeda dengan materi, namun ia masih bersifat empiris.
Uraian tersebut dapat dijadikan
sebagai indikasi bahwa Ibn Bajjah mempelajari
dan memahami filsafat Aristoteles dengan baik karena argumen yang dimajukannya masih berbau
Aristotelean. Tampaknya Ibn Bajjah
berupaya mengislamkan argumen metafisika Aristoteles tersebut. Karena itu, menurutnya, Allah tidak hanya penggerak, tetapi ia adalah Pencipta dan Pengatur alam.16
2.
Materi dan Bentuk
Menurut Ibn Bajjah, “Materi dapat bereksistensi tanpa harus
ada bentuk (ash-shurat).” Pernyataan ini menolak asumsi bahwa “materi itu tidak bisa bereksistensi tanpa ada bentuk,
sedangkan bentuk bisa bereksistensi dengan sendirinya, tanpa harus ada materi.” Ibn Bajjah berargumen
jika materi berbentuk, ia akan terbagi menjadi
“materi” dan “bentuk”
dan begitu seterusnya. Ibn Bajjah menyatakan bahwa “Bentuk Pertama”
merupakan
suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.
![]()
Bentuk-bentuk yang berkaitan dengan aktif oleh Ibn Bajjah dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan umum, sedangkan
bentuk-bentuk yang berkaitan
dengan akal sehat dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan khusus. Pembedaan ini dilakukan karena bentuk-bentuk
kejiwaan umum hanya memiliki satu hubungan dan
hubungan itu ialah dengan yang menerima, sedangkan bentuk- bentuk kejiwaan
khusus memiliki dua hubungan-hubungan khusus dengan yang berakal sehat dan
hubungan umum dengan yang terasa. Semisal, seorang manusia, ingat akan bentuk Taj Mahal, bentuk ini tidak berbeda
dari bentuk nyata Taj
Mahal kalau benda itu berada
di depan mata, selain memiliki hubungan khusus, juga hubungan dengan wujud umum yang terasa, sebab
16 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam...
hlm. 197-199.
banyak orang melihat
Taj Mahal.17
Contoh lainnya, kita ingat bentuk Ka’bah. Bentuk Ka’bah yang kita ingat sama dengan bentuk Ka’bah
yang nyata. Kalau Ka’bah tersebut
berada di depan mata,
ini dinamakan bentuk rohani umum. Bentuk ini juga mempunyai
hubungan dengan wujud umum yang terasa sebab banyak orang yang melihat
Ka’bah, ini dinamakan bentuk khusus. Sedangkan bentuk fisik, yaitu Ka’bah itu benar.18
3.
Jiwa
Menurut pendapat Ibn Bajjah, setiap
manusia mempunyai satu jiwa, jiwa ini tidak mengalami perubahan
sebagaimana jasmani. Jiwa
adalah penggerak bagi manusia. Jiwa digerakkan
dengan dua jenis alat: alat-alat jasmaniah dan alat-alat rohaniah. Alat-alat
jasmaniah diantaranya ada berupa buatan dan ada pula yang berupa alamiah,
seperti kaki dan tangan.
Alat-alat alamiah ini lebih dahulu
dari alat buatan, yang disebut juga oleh Ibn
Bajjah dengan pendorong naluri (al-harr
al-gharizi) atau roh insting. Ia terdapat pada setiap makhluk yang berdarah.
Jiwa menurut Ibn Bajjah, adalah jauhar rohani,
akan kekal setelah
mati. Di akhirat
jiwalah yang akan menerima pembalasan, baik balasan kesenangan
(surga) maupun balasan siksaan
(neraka). Akal daya berpikir bagi jiwa, adalah satu bagi setiap orang yang berakal. Ia dapat bersatu dengan ‘Aqal Fa’al
yang di atasnya dengan jalan ma’rifat filsafat. Filsafat Ibn Bajjah tentang jiwa pada prinsipnya didasarkan
pada filsafat Al-Farabi dan Ibn Sina.19
4.
Akal dan Ma’rifat (Pengetahuan)
Menurut Ibn Bajjah, akal merupakan bagian terpenting yang dimilliki oleh manusia. Ia berpendapat bahwa
ma’rifat
![]()
17\ Dedi Supriyadi,
Pengantar Filsafat Islam Konsep, Filsuf, dan Ajarannya), (Bandung: Pustaka Setia, 2009), hlm. 202-203.
18\ Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., hlm. 200.
19\ Ibid., hlm. 200-201.
(pengetahuan) yang benar dapat diperoleh lewat akal. Akal
ini merupakan satu-satunya sarana yang melaluinya kita mampu mencapai kemakmuran dan membangun
kepribadian. Ibn Bajjah percaya pada kemajemukan akal dan mengacu
pada akal pertama
dan akal kedua. Ia berpendapat, akal manusia paling jauh adalah akal pertama. Lebih jauh, ia menjelaskan tingkatan-tingkatan akal dengan mengatakan bahwa sebagian akal secara langsung berasal dari akal pertama; sebagian lain
berasal dari akal-akal lain, hubungan
antara yang diperoleh dan tempat asal akal yang diperoleh itu sama dengan hubungan
cahaya matahari yang ada
di dalam rumah dan cahaya matahari yang ada di halaman rumah.20
![]()
Ibn Bajjah berpendapat bahwa seseorang dapat mencapai puncak
ma’rifat dan meleburkan diri pada ‘Aqal-Fa’al (Akal Aktif), jika ia
telah dapat terlepas dari sifat kerendahan dan keburukan- keburukan masyarakat, serta dapat memakai kekuatan
pikirannya untuk memperoleh ma’rifat
dan ilmu sebesar mungkin, juga dapat menenangkan segi pikiran pada dirinya atas pikiran
hewaninya. Ibn Bajjah menjelaskan
bahwa masyarakat manusia itulah yang mengalahkan perorangan dan melumpuhkan kemampuan- kemampuan berpikirnya, serta menghalang-halanginya dari kesempurnaan,
melalui keburukan-keburukannya dan keinginan- keinginannya yang menggebu.
Jadi seseorang dapat mencapai tingkat
kemuliaan setinggi-tingginya melalui
pemikiran dan memperoleh ma’rifat yang tidak akan terlambat, apabila akal pikiran
dapat menguasai perbuatan-perbuatan seseorang dan mengabdikan diri untuk memperolehnya.21
20 Dedi Supriyadi, Pengantar..., hlm.
204.
21 Pemikiran Ibn Bajah tersebut
berlawanan sekali dengan pemikiran
al-Ghazali yang menetapkan bahwa akal-pikir itu lemah dan tidak dapat dipercaya, serta semua
pengetahuan manusia sia-sia belaka, karena tidak bisa menyampaikan kepada sesuatu kebenaran, dan cara yang paling baik untuk mencapai ma’rifat
yang benar ialah beribadah (tasawuf). Dalam Risalah al-Wada’, Ibn
Bajah mengatakan bahwa al- Ghazali dalam bukunya Al-Munqidz min ad-Dlalal telah
menempuh jarak khayali yang remeh,
dan dengan demikian ia telah sesat dan menyesatkan orang-orang yang memasuki
fatamorgana dan yang mengira bahwa pintu
5.
Akhlak
Ibn
Bajah membagi perbuatan-perbuatan manusia kepada dua bagian. Bagian pertama,
ialah perbuatan yang timbul dari motif-naluri dan hal-hal lain
yang berhubungan dengannya,
baik dekat atau jauh. Bagian kedua ialah perbuatan yang timbul dari pemikiran yang lurus dan kemajuan
yang bersih dan tinggi. Bagian ini
disebutnya “perbuatan-perbuatan manusia”. Pangkal perbedaan antara kedua bagian tersebut bagi Ibn Bajjah bukan perbuatan itu sendiri melainkan motifnya.
Untuk menjelaskan kedua macam
perbuatan tersebut, ia mengemukakan seseorang
yang terantuk dengan batu, kemudian
ia luka-luka, lalu ia melemparkan batu itu. Kalau ia melemparnya karena telah melukainya, maka ia adalah perbuatan
hewani yang didorong
oleh naluri kehewanannya yang lebih mendiktekan kepadanya untuk memusnahkan setiap perkara yang mengganggunya.
Adapun sebaliknya, kalau melemparkannya agar batu itu tidak mengganggu orang lain, bukan karena kepentingan dirinya, atau
marahnya tidak ada bersangkut-paut dengan pelemparan tersebut, maka perbuatan
itu adalah pekerjaan
kemanusiaan. Pekerjaan terakhir
ini saja yang bisa dinilai
dalam lapangan akhlak, karena menurut Ibn Bajah, hanya
orang yang bekerja di bawah pengaruh
pikiran dan keadilan semata-mata, dan tidak ada hubungannya dengan segi-hewani padanya, itu saja
yang bisa dihargai perbuatannya. Setiap orang yang hendak menundukkan segi hewani pada dirinya, maka ia
tidak lain hanya harus memulai dengan melaksanakan segi kemanusiaannya. Dalam keadaan demikianlah, maka segi hewani pada dirinya
tunduk kepada ketinggian segi kemanusiaan, dan seseorang
menjadi manusia dengan tidak ada kekurangannya, karena
kekurangan ini timbul disebabkan ketundukannya kepada naluri.22
Contoh lainnya,
perbuatan
makan
bisa
dikategorikan
![]()
tasawuf telah membuka dunia
pikiran dan selanjutnya memperlihatkan kebahagiaan
ketika melihat alam langit. Ahmad Hanafi, Pengantar...,
hlm. 158.
22 Ibid., hlm. 159.
perbuatan hewani dan bisa pula menjadi perbuatan
manusiawi. Apabila perbuatan makan
tersebut dilakukan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu, perbuatan ini jatuh pada
perbuatan hewani. Namun, apabila perbuatan
makan dilakukan bertujuan
untuk memelihara kehidupan
dalam mencapai keutamaan dalam hidup, perbuatan tersebut jatuh pada perbuatan
manusiawi. Perbedaan antara kedua
perbuatan ini tergantung pada motivasi pelakunya, bukan pada perbuatannya. Perbuatan yang bermotifkan hawa nafsu tergolong
pada jenis perbuatan
hewani dan perbuatan
bermotifkan rasio (akal) maka dinamakan perbuatan manusiawi. Manusia, menurut Ibn Bajjah, apabila
perbuatannya dilakukan demi memuaskan
akal semata, perbuatannya ini mirip dengan perbuatan
llahi daripada perbuatan manusiawi. Hal ini merupakan keutamaaan karena jiwa telah dapat menekan
keinginan jiwa hewani
yang selalu menentangnya. Perbuatan seperti itulah
yang dikehendaki oleh Ibn
Bajjah bagi warga masyarakat yang hidup dalam negara utama.23
6.
Politik (Teori Pemerintahan)
Pandangan politik Ibn Bajjah dipengaruhi oleh pandangan politik
Al- Farabi. Sebagaimana Al-Farabi, dalam buku Ara’ Ahl al- Madinat
al-Fadhilat, ia (Ibn Bajjah) juga membagi negara
menjadi negara utama (al-Madinat
al-Fadhilat) atau sempurna
dan negara yang tidak sempurna,
seperti negara jahilah,
fasiqah, dan lainnya.
Demikian juga tentang
hak-hak yang lain, seperti persyaratan kepala
negara dan tugas-tugasnya selain mengatur negara, juga pengajar dan pendidik. Pendapat Ibn Bajjah ini sejalan dengan Al-Farabi. Perbedaannya hanya terletak
pada penekanannya. Al- Farabi titik
tekannya pada kepala negara, sedangkan Ibn Bajjah titik tekannya pada warga negara (masyarakat). Warga negara utama, menurut Ibn Bajjah, mereka tidak lagi memerlukan dokter dan hakim. Sebab mereka hidup dalam keadaan puas terhadap
segala rezeki yang diberikan Allah, yang dalam istilah agama disebut dengan al-qana’ah. Mereka tidak mau memakan-
![]()
23 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., hlm. 203.
makanan yang akan merusak kesehatan. Mereka juga hidup saling
mengasihi, saling menyayangi, dan saling menghormati. Oleh karena itu, tidaklah akan ditemukan perselisihan antara mereka. Mereka seluruhnya mengerti
undang-undang negara dan mereka tidak mau melanggarnya.24
Tampaknya Ibn Bajjah mempunyai hubungan tersendiri dengan al-Farabi lantaran perhatiannya
yang sama besar dengan al-Farabi
terhadap isu-isu etika dan politik yang oleh Ibn Sina cenderung dikesampingkan. Maka dari itu, seperti halnya al-Farabi, karya utama Ibn Bajjah Tadbir Al-Mutawahhid (Pemerintahan Soliter), bertitik-tolak pada bagaimana membentuk sebuah rezim politik yang
sesuai dengan cita-cita kehidupan
soliter para filosof yang sejati. Menurutnya, rezim ini haruslah mampu memberikan landasan yang kuat bagi tegaknya kehidupan yang bijak bestari
dan keluhuran yang layak bagi para filosof meskipun tanpa kehadiran para
tabib atau hakim. Akan tetapi,
apabila negara ideal yang bebas dari penyakit moral dan kejahatan tersebut terjerumus ke dalam salah satu dari empat jenis rezim yang korup seperti
yang telah dikemukakan al-Farabi, nasib
filosof yang hidup di dalamnya akan menjadi benar-benar menyedihkan. Dua pilihan yang pasti akan dihadapinya,
yaitu apabila dimungkinkan, ia akan
berhijrah ke kota ideal yang lain; atau
tetap tinggal di dalamnya dan mengelola semua urusannya sebaik mungkin. Sambil hidup bagai orang yang terasing di tengah masyarakat dan kerabatnya sendiri.25
7.
Manusia Penyendiri (‘Uzlah)
Filsafat Ibn Bajjah yang paling populer ialah manusia penyendiri (al-insan al-munfarid). Pemikiran ini termuat
dalam
![]()
24 Ibid., hlm. 204-205.
25 Majid Fakhry, Sejarah...,
hlm. 100-101. Al-Farabi berpendapat apabila tujuan negara yang ideal
terganggu dan menjadi bahan tertawaan, maka
akan lahir empat macam kemungkinan rezim yang korup, yakni al- Madinah al-Jahilah, al-Madinah al-Dhalal, al-Madinah al-Fasiqah, dan al- Madinah
al-Mutabadilah. Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam..., hlm. 85, Dedi Supriyadi, Pengantar..., hlm.
93.
magnum opum-nya Kitab Tadbir al-Mutawahhid. Sebagaimana Al-Farabi,
pembicaraan Ibn Bajjah tentang hal ini erat kaitannya dengan
politik dan akhlak.Dalam menjelaskan manusia penyendiri ini, Ibn Bajjah terlebih dahulu memaparkan pengertian tadbir
al-mutawahhid. Lafal tadbir, adalah bahasa Arab, mengandung pengertian
yang banyak, namun pengertian yang diinginkan oleh Ibn Bajjah ialah mengatur perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dengan kata
lain, aturan yang sempurna. Dengan demikian,
jika tadbir dimaksudkan pengaturan yang baik untuk
mencapai tujuan tertentu,
maka tadbir tentu hanya khusus bagi manusia. Sebab pengertian itu, hanya dapat dilakukan dengan perantaraan akal, yang akal
hanya terdapat pada manusia. Dan juga perbuatan
manusia berdasarkan ikhtiar.
Hal inilah yang membedakan manusia dari makhluk hewan. Lebih lanjut Ibn Bajjah menjelaskan tentang tadbir bahwa kata ini menakup
pengertian umum dan khusus. Tadbir
dalam pengertian umum, seperti disebut
di atas, adalah
segala bentuk perbuatan
manusia.
Sementara itu, tadbir dalam
pengertian khusus adalah
pengaturan negara dalam mencapai tujuan tertentu, yakni kebahagiaan. Pada pihak lain, filosof pertama
Spanyol ini menghubungkan istilah tadbir kepada Allah
Swt. karena Allah
Swt. Maha Pengatur, yang
disebut al-Mutadabbir. Ia telah
mengatur alam sedemikian rapi dan teratur tanpa cacat. Pemakaian kata
ini kepada Allah hanya untuk penyerupaan semata. Akan tetapi, pendapat Ibn Bajjah ini memang ada benarnya. Tadbir yang akan
dilaksanakan manusia mestinya mencontoh kepada
tadbir Allah Swt. terhadap
alam semesta. Selain itu, tadbir hanya dapat dilaksanakan berdasarkan akal dan ikhtiar.
Pengertian ini tercakup
manusia yang memiliki akal dan Allah yang dalam filsafat disebut dengan ‘aql.
Adapun yang dimaksud
dengan istilah al-Mutawahhid ialah
manusia penyendiri. Dengan kata lain, seseorang atau beberapa orang,
mereka mengasingkan diri masing-masing secara sendiri-sendiri, tidak berhubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan orang lain
tidak mungkin sebab dikhawatirkan akan terpengaruh dengan
perbuatan yang
tidak baik. Sementara
itu, al-Mutawahhid yang dimaksud
Ibn Bajjah ialah seorang
filosof atau beberapa orang filosof hidup menyendiri pada salah satu negara dari negara yang tidak sempurna, seperti Negara Fasiqah,
Jahilah, Berubah, dan lain- lainnya. Apabila tidak demikian, tidak
mungkin baginya untuk mencapai kebahagiaan.26
‘Uzlah (penyendirian)
yang dikemukakan oleh Ibn Bajjah bukanlah
menjauhi manusia, melainkan tetap juga berhubungan dengan masyarakat. Hanya saja ia harus selalu bisa menguasai dirinya
serta hawa nafsunya
dan tidak terbawa
oleh arus keburukan-keburukan kehidupan
masyarakat. Atau dengan kata lain, ia
harus berpusat pada dirinya sendiri dan selalu merasa bahwa dirinya menjadi
anutan dan pusat aturan-aturan bagi masyarakat, bukan
malah tenggelam di dalamnya. Bagi
Ibn Bajjah, tiap-tiap orang, mampu menempuh jalan
tersebut, dan tidak ada yang
menghambatnya kecuali peremehannya terhadap dirinya sendiri dan ketundukannya terhadap keburukan-keburukan masyarakat. Kalau sekiranya tiap-tiap
orang bisa meninggalkan sikap tersebut,
tentulah masyarakat manusia
keseluruhannya bisa mencapai
kesempurnaan.27
Perlu dijelaskan bahwa manusia penyendiri (‘uzlah) yang dikemukakan Ibn Bajjah adalah ‘uzlah aqliyyah berbeda dengan ‘uzlah sufi yang dikemukakan Al-Ghazali. Bahkan, Ibn Bajjah mengkritik ‘uzlah
total Al-Ghazali, yang ia katakan bertentangan dengan tabiat atau watak manusia
sebagai makhluk sosial.
Dilihat dari kritik
ini dapat dipastikan bahwa Ibn Bajjah
mengenal buku- buku Al-Ghazali yang berbicara dengan tasawuf, paling tidak buku al-Munqiz
min al-Dhalal dan
Ilya’ ‘ulum al-Din. Akan tetapi, dilihat
dari sisi pemikiran filsafat yang lain, sepertinya Ibn Bajjah tidak
menyinggung buku Tahafut al-Falasifah.
Karena itu, berat dugaan buku-buku
seperti Tahafut al-Falasifah dan yang sejenisnya tidak sampai kepada Ibn Bajjah.28
![]()
26 Ibid., hlm. 205-206.
27 Ahmad Hanafi, Pengantar..., hlm. 158-159.
28 Sirajuddin Zar, Filsafat Islam..., hlm.
Teori Ittishal, Kontak Intelektual dengan Tuhan
Seperti halnya Al-Farabi dan Ibn Sina, Ibn Bajjah percaya bahwa pengetahuan tidak diperoleh semata melalui indra. Pertimbangan-pertimbangan
universal dan niscaya, isi ilmu yang prediktif dan eksplanatif serta landasan bagi
penalaran apodeiktik (apho-deictic) tentang
alam, hanya dapat dicapai dengan bantuan Akal Aktif, intelegensi yang mengatur.29
Mirip kaum sufi—yang metodenya kadangkala dianggap oleh Ibn Bajjah sendiri sebagai picisan
karena bersandar pada citra dan
representasi indrawi—Ibn Bajjah juga menempatkan manusia pada tataran spiritual, yang tinggi apabila ia mampu menyatukan diri dengan bentuk-bentuk spiritual, terutama dengan Akal Aktif yang letaknya paling
dekat dengan eksistensi manusia. Akan tetapi, menurut
Ibn Bajjah, penyatuan atau lebih tepatnya pertalian
(conjunction) ini sepenuhnya bersifat
intelektual, bukan afektif
atau indriawi, seperti kata kaum sufi yang suka memakai
bahasa cinta, kontemplasi, dan visi (musyahadah).
Lagi pula, objek penyatuan ini bukanlah Wujud
Tertinggi atau Tuhan—sebagaimana diakui oleh kaum sufi— melainkan maujud-maujud spiritual yang lebih rendah, termasuk Akal Aktif yang menurut kaum Neoplatonis
Muslim menempati posisi antara Tuhan
dan alam materiil. Manakala pribadi-prbadi tersebut berhasil
mencapai kondisi berhubungan dengan entitas- entitas spiritual dan intelektual yang
ada di alam spiritual dan intelektual, lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Jika para filosof
gagal mencapai kondisi
ini akibat tekanan
hidup yang dideritanya di negara atau rezim yang
korup, dapatlah kiranya mereka
dimaklumi. Walaupun begitu, wajib bagi mereka, selaku filosof, untuk menjalani
hidup dalam kesendirian (solitude) sebaik mungkin.30
Dalam Risalatul-Ittishal Ibn Bajah
membagi
manusia
![]()
29 Seyyed Hossein Nasr dan Oliver
Leaman (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, penerjemah Tim
Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 369
30
Majid Fakhry, Sejarah..., hlm. 102.
II. Pemikiran Filsafat Suhrawardi dan Ibnu Thufail
A.
Pemikiran Filsafat Suhrawardi
Suhrawardi telah menulis tidak kurang dari 50 karya
filsafat dan gnostik dalam bahasa Arab dan Parsia. Seyyed Hossein Nasr
mengelompokkan karya-karya Suhrawardi ke dalam lima bagian yaitu: [3]
Berisi pengajaran dan kaidah teosofi yang merupakan
penafsiran terhadap filsafat peripatetis. Ada empat buku tentang hal ini yang
ditulis dengan bahasa Arab, yaitu Talwihat, Muqawamat, Mutarahath dan Hikmat
Al-Isyraq. Khusus Hikmat Al-Isyraq merupakan karya pamungkas yang secara
seimbang menggunakan metode bahsiyah dan zauqiyah, selain itu iya menganjurkan
agar berpuasa 40 hari sebelum mempelajari sebagai persiapan dalam memperkuat
batin. Pembahasan buku ini bertitik tekan pada cahaya Tuhan.
Karangan pendek tentang filsafat, ditulis dalam bahasa
Arab dan Persia dengan gaya bahasa yang sederhana, yaitu Hayaqil Al-Nur,
Al-Alwah Al-Imadiah, Partaw-namah, Fi l’itiqad al- Hukama’, al-Lamahat, Yazdan
Syinakht, dan Bustan al-Qulub.
Karya yang bermuatan dan berlambang mistis, yang pada
umumnya ditulis dalam bahasa Persia, yaitu ‘aqli surkh, awaz’i par’i jibrail,
al-ghurbat al-ghurbiyah, lughat’i muran, risalah fi halat al-thifuliyah, ruzi
ba jama’ at’i shufiyan, risalah fi al-mi’raj, dan syafiri simurgh.
Karya yang berupa komentar dan terjemah dari
ajaran-ajaran keagamaan dan filsafat terdahulu, di antaranaya: Risalah al-Thair
karya Ibn Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Persia; komentar terhadap kitab
Isyarat karya Ibn Sina; serta tulisan dalam Risalah fi Haqiqat al-‘Isyqi, yang
berpusat pada risalah Ibn Sina Fi al-Isyqi; serta beberapa tafsir Al-Quran dan
Hadits Nabi.
Karya yang berupa kumpulan doa-doa yang lebih terkenal
dengan sebutan al-Waridat wa al-Taqdisat.[4]
Pemikiran Suhrawardi Al-Maqtul
Latar Belakang Pemikirannya
Pemikiran iluminasi dari Suhrawardi tidak hanya
bersumber dari Islam tetapi sumber dari non-Islam pun turut mewakili
pemikirannya. Menurut Sayyed Hosein Nasr, pemikiran Suhrawardi bersumber pada:
[5]
Pemikiran sufisme, yaitu melalui karya-karya al-Hallaj
(858-913 M) dan al-Ghazali (1058-1111 M). Namun yang paling berpengaruh adalah
karyanya al-Ghazali, yaitu: misykat al-anwar, yang menjelaskan adanya hubungan
antara nur (cahaya) dengan iman.
Pemikiran peripatetik Islam, khususnya filsafat Ibn
Sina. Meskipun banyak kritikan tetapi ia memandangnya sebagai azas penting
dalam memahami keyakinan-keyakinan
Pemikiran sebelum Islam, yaitu aliran Pyithagoras
(580-500 SM), Platonisme dan Hermenisme di Alexandria, yang kemudian disebarkan
oleh kaum Sya-biah Harran yang memandang kumpulan aliran Hermes sebagai kitab
samawi mereka.
Pemikiran-pemikiran Iran Kuno. Disini Suhrawardi
mencoba membangkitkan keyakinan-keyakinannya secara baru dan memandang para
pemikir Iran-Kuno sebagai pewaris langsung hikmah yang turun sebelum datangnya
bencana taufan yang menimpa kaum Nabi Idris (Hermes).
Bersandar pada ajaran zoroaster dalam menggunakan
lambang-lambang cahaya dan kegelapan, khususnya dalam ilmu malaikat, yang
kemudian di tambah dengan istilah-istilah sendiri. Namun demikian, Suhrawardi
menyata-kan bahwa dirinya bukanlah penganut ajaran dualisme dan tidak menuduh
mazhab zahiriyah sebagai pengikut zoroaster. Sebaliknya, ia mengklaim dirinya
sebagai jamaah hukama Iran, pemilik keyakinan ‘kebatinan’ yang berdasarkan
prinsip kesatuan ketuhanan dan pemilik sunnah yang tersem-bunyi di lubuk
masyarakat zoroaster.
Metafisika dan Cahaya
Dalam pengkajian metafisika ini, banyak dari para
pemikir yang memiliki ungkapan atau metode penguraian yang berbeda. Beberapa
tokoh sufi menyebut Allah dengan cahaya, yaitu berdasarkan Al-Qur’an surat Al
Nur: 35[6]
Artinya: Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan
bumi, perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di
dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca dan tabung kaca itu
bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang
di berkahi, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di
barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh
api, cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada
cahaya-Nya bagi siapa yang dia kehendaki, dan Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
Menurut Suhrawardi cahaya itu bersifat immaterial dan
tidak bisa didefinisi-kan. Cahaya adalah entitas, baik yang bersifat fisik
maupun non fisik sebagai suatu komponen yang esensial. Segala sesuatu yang
bukan dari “cahaya murni”, terdiri dari substansi gelap. Sejauh benda-benda itu
dapat menerima, baik cahaya maupun kegelapan, bisa dinamakan “imus-imus”.
Dipandang dari dirinya sendiri, setiap imus adalah gelap. Cahaya apapun yang
dimilikinya, mestilah berasal dari sumber luar.[7] Di dalam bukunya Pengantar
Filsafat Islam, Dedi Supriyadi beranggapan bahwa simbolisme cahaya yang
digunakan oleh suhrawardi dalam filsafat iluminasinya lebih cocok dan sesuai
untuk menyampaikan prinsip ontologis wujud karena cahaya itu memungkinkan untuk
mempunyai entitas yang berbeda meskipun esensinya sama. Kemudian dianggap juga
bahwa simbolis cahaya dapat dijadikan sebagai indikasi akan derajat
kesempurnaan. Contohnya, ketika semakin dekatnya suatu entitas dengan
sumbernya, yaitu cahaya dari segala cahaya, maka semakin teranglah cahaya
entitas tersebut”.
Substansi-substansi gelap memiliki sifat, seperti
bentuk dan ukuran yang berasal dari sifat gelap. Sedangkan cahaya murni bebas
dari kegelapan, ia hanya memahami diri sendiri di luar dirinya, sementara semua
proses lain di luar dirinya tergantung padanya. Cahaya murni merupakan sumber
gerak, tetapi geraknya bukanlah perubahan tempat. Gerak itu berupa citra akan
“penerangan” yang akan membentuk esensinya, seakan cahaya murni menghidupkan
segala sesuatu dengan cara melimpahkan sinarnya kedalam segala wujud.
Cahaya pada dasarnya dapat dibedakan menjadi, pertama:
cahaya abstrak, yang terbentuk dan tidak pernah menjadi sesuatu selain dirinya
sendiri. Kedua; cahaya aksiden, yaitu cahaya yang mempunyai bentuk dan mampu
menjadi sesuatu selain dirinya sendiri, seperti sinar bintang, atau
keterlihatan benda-benda angkasa lainnya. Cahaya aksiden atau cahaya yang dapat
diindra merupakan suatu refleksi jauh cahaya abstrak yang disebabkan oleh jarak
setelah kehilangan substansi cahaya abstrak. Proses refleksi berkesinambungan
menyebabkan penerangan cahaya tersebut melemah dan berangsur-angsur kehilangan
intensitasnya dalam rangkaian refleksi.
Selain itu, cahaya dapat pula dibedakan menjadi cahaya
bagi dirinya dan cahaya bagi luar dirinya. Cahaya juga memiliki hierarki
vertical (tingkatan). Pada puncak skala cahaya berdiri cahaya segala cahaya,
yang kepadanya tergantung seluruh rentetan cahaya yang ada dibawahnya. Sebagai
asal atau sumber segala cahaya, cahaya ini niscaya keberadaannya. Rentetan
cahaya itu haruslah berjuang untuk sampai pada cahaya segala cahaya.
Cahaya ini disebut Suhrawardi sebagai al Nur al
Muhith, al Nur al Qayyum, al Nur al Muqaddas, al Nur al A’dham al A’la, al Nur
al Qahhar, dan al Ghani al Muthlaq. Sifat Cahaya Segala Cahaya adalah Esa.
Cahaya pertama (Nur al Awwal) muncul melalui proses emanasi pada dirinya, yaitu
berjumlah satu dan tidak tersusun, karena tidak mungkin bahwa sebuah entitas
tersusun dari cahaya dan kegelapan akan memancar sebuah realitas yang bebas
dari kegelapan.
Suhrawardi mengatakan bahwa hubungan cahaya yang lebih
tinggi dengan yang lebih rendah dirumuskan dalam istilah-istilah dominasi,
sedangkan hubungan cahaya yang lebih rendah dengan yang lebih tinggi dirumuskan
dalam istilah-istilah attraksi (menarik) atau cinta (‘isyaq: philia). Dua
kekuatan dominasi dan cinta inilah yang mengatur dunia. Cahaya segala cahaya
yang tidak ada bandingannya dalam mendominasi segala sesuatu dan mencintai
entitas yang paling tinggi yaitu dirinya sendiri. Dalam tindakan mencintai diri
ini akan terbagi kesenangan tertinggi, kesa-daran dan perenungan yang paling
sempurna.[8]
Epistemologi\
Suhrawardi berpendapat bahwa suatu prinsip definisi
yang benar ialah menyebutkan satu persatu atribut esensial yang terdapat pada
benda yang dide-finisikan. Suhrawardi membahas dengan panjang lebar masalah
pengetahuan yang pada akhirnya mendasarkannya pada iluminasi. Suhrawardi
menggabungkan cara nalar dengan cara intuisi, dan menganggap keduanya saling
melengkapi. Nalar tanpa intuisi dan iluminasi tidak akan pernah bisa mencapai
sumber transenden dari segala kebenaran dan penalaran. Sedangkan intuisi tanpa
penyiapan logika serta latihan dan pengembangan kemampuan rasional bisa
tersesat dan tidak akan dapat mengung-kapkan dirinya secara ringkas dan
metodis.[9] Akal tanpa bantuan Dzauq (pengetahuan batin, intuitif) tidak dapat
dipercaya. Dzauq berfungsi menyerap misteri segala esensi dan membuang
skeptisisme, dan sisi spekulatif murni dari pengalaman spritual perlu
dirumuskan dan disistematiskan oleh pikiran logis.
Dalam buku Hikmah al–Isyraqnya, suhrawardi mengatakan
bahwa pengeta-huan iluminasionisnya dilandasi pada rasa, sebagaimana
perkataannya yang telah terkutip dari buku Mustofa,[10] yaitu:
“Apa yang ku kemukakan dalam hikmah al–Isyraq ini,
tidak ku peroleh dengan pikiran, melainkan ku peroleh melalui sumber lain. Dan
aku pun segera mencari argumentasinya. Jika argumentasinya itu benar-benar
telah pasti, maka sedikit pun ak tidak ragu terhadapnya, meskipun orang
meragukannya”.
Kosmologi
Kosmologi adalah satu bidang ilmu tentang alam
semesta. Ilmu ini menum-pukan perhatian pada persolan asal-usul kewujudan alam
semesta, elemen-elemen yang terkandung di dalamnya, hubungan antara
elemen-elemen tersebut, dan ber-bagai perkara lain yang secara langsung dan
tidak langsung mempunyai kaitan dengan alam semesta. Pelimpahan dari sumber
pertama (Tuhan) itu bersifat abadi dan terus menerus, sebab pelakunya tidak
berubah-ubah dan terus ada. Sebagai konsekuensinya alam juga abadi, yaitu
sebagai akibat dari pelimpahan-Nya.[11] Dengan kata lain, ada dua yang abadi
yaitu Tuhan dan alam. Namun demikian, menurut Suhrawardi tetap berbeda. Alam
semesta adalah manifestasi (perwujudan) kekuatan penerangan yang membentuk
sebagaimana karakter esensial cahaya pertama. Oleh sebab itu, alam semesta
merupakan suatu manifestasi yang tergantung dan tidak abadi, tetapi dalam makna
lain ia abadi. Suhrawardi mengelompokkan alam menjadi empat kelompok, yaitu:
Alam akal, berisikan cahaya-cahaya dominator yang
jumlahnya tergantung dari intensitas cahaya pertama. Seperti: Ruh Qudus dan
Rabb Thilsam.
Alam jiwa-jiwa yang terdapat jiwa-jiwa pengatur planet
langit dan tubuh manusia. Menurut Suhrawardi jiwa-jiwa planet muncul dari arbab
al-anwa’ al-samawi, yang berasal dari hirarkhi cahaya atau akal horizontal.
Alam bentuk (alam al-ajsam), yang menurutnya ada dua
bentuk, yaitu: alam bentuk unsur yang berbeda dibawah planet bulan dan alam
bentuk zat yang sangat luas, yaitu bentuk planet langit.
Alam mitsal, yakni suatu alam lepasnya jiwa menuju
kesempurnaan.
B.
Pemikiran
Filsafat Ibnu Thufail.
Setelah
mempelajari pemikiran para filosof Islam yang telah mendahuluinya -terutama
masalah makrifah, ternyata para filosof Islam tidak terlepas dari
kritikannya, baik itu terhadap Ibnu Bajjah, Al-Farabi, Ibn Sina maupun
Al-Ghazali. “...dia mengkritik Ibnu Bajjah sebagai orang yang berpikiran
singkat, tidak berpandangan jauh, membangun pikiran filsafatnya
hanya atas kaidah-kaidah akal dan logika, seraya meremehkan dasar pengalaman
lain yang bersifat kasyf ruhani. Juga dia mengkritik al-Farabi sebagai filosof
yang ragu-ragu, tidak memberi kepastian dalam masalah-masalah falsafi. Demikian
pula dia mengkritik Ibn Sina sebagai seorang yang menulis kitab as-Sifa’,
dimana dia mengatakan kitab itu ditulis berdasakan mazhab Aristoteles,
sedangkan orang yang membaca kitab itu tidak menemukan dalam kitab Aristoteles.
Ibnu Thufail mengkritiknya karena gaya bahsa Ibnu Sina sangat kabur dan
mendalam sehingga seringkali tidak dipahami maksudnya.
Adapun
Al-Ghazali dipandangnya sebagai orang yang banyak menulis untuk orang awam,
sehingga menggambarkan sikap munafik -muka dua- dan tidak konsisten. Dalam buku
Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali mengkafirkan para filosof Islam yang tidak
percaya akan dibangkaitkannya ruh dan jasad sekaligus pada hari akhirat. Namun
dalam kitab al-Mizan dan al-Munqis min al-Dhalal, Al-Ghazali membenarkan dan
menerima pendapat para filosof yang dikafirkannya itu. Dengan demikian,
seakan-akan Al-Ghazali mengkafirkan dirinya sendiri. Makanya Ibnu Thufail
dalam penyajian filsafatnya menggunakan model tersendiri yaitu yang termuat
dalam Hayy Yaqzham yang penuh tamsil dan kadang sulit untuk dipahami. Namun
untuk memahaminya bisa melihat kerangka dasarnya. Dalam muqaddimahnya,
Ibnu Thuafail menjelaskan tujuan penulisan buku itu untuk menyaksikan kebenaran
menurut cara yang ditempuh para ahl Zauq dan musyahadah yang telah mencapai
tingkat kewalian. Ini tidak mungkin dijelaskan hakikatnya dengan kata-akata.
Akan tetapi hanya bisa dengan lambang. Makanya penyajian Hayy Ibn Yaqzham
ditujukan agar orang mau menuruti jalan itu.
Selain
itu, para ahli seperti Muhammad Ghalab mengatakan, ”tujuan risalah Hayy Ibn
Yaqzham adalah menunjukkan bahwa akal mempunyai kemampuan untuk mengetahui
kebenaran yang tidak bertentangan dengan agama”. Sementara Harun Nasution
mengatakan, “… lewat kisah Hayy Ibn Yaqzhan ini dijelaskan
keharmonisan antara akal dan wahyu. Akal dapat mengetahui adanya
Tuhan dan kewajiban berterima kasih kepada-Nya, tetapi tidak tahu cara yang
tepat untuk menyatakan terima kasih tersebut.”[4]
1.
Dunia.[5]
Salah satu
masalah filsafat adalah apakah dunia itu kekal, atau diciptakan oleh tuhan dari
ketiadaan atas kehendak-Nya? Dalam filsafat Islam, Ibnu Thufail, sejalan
dengan kemahiran dialektisnya, menghadapi masalah itu dengan tepat. Tidak
seperti pendahulunya, dia tidak menganut salah satu doktrin saingannya, dan
tidak berusaha mendamaikan mereka. Di lain pihak, dia mengecam dengan pedas
para pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan
konsep eksistensi tak terbatas yang tak kurang mustahilnya dibandingkan gagasan
tentang rentangan tak terbatas. Eksistensi seperti itu tidak lepas dari
kejadian-kejadian yang diciptakan dan karena itu tidak dapat
mendahului mereka dalam hal waktu, dan yang tidak dapat sebelum
kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Begitu
pula konsep Creatio Ex Nihilo tidak dapat mempertahankan
penelitiannya yang seksama.
Sebagaimana
Al-Ghazali, dia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum
ketidakmaujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada
sebelum dunia ada, tapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak
terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudan dunia di
kesampingkan lagi, segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta.
Kalau begitu mengapa sang pencipta menciptakan dunia saat itu bukan sebelumnya?
Apakah hal itu dikarenakan oleh suatu yang terjadi atas-Nya? Tentu saja tidak,
sebab tiada sesuatupun sebelum dia untuk membuat sesuatu terjadi atas-Nya.
Apakah hal itu mesti bersumber dari suatu perubahan yang terjadi atas
sifat-Nya? Tapi adakah yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut? Karena
itu Ibnu Tufail tidak menerima baik pandangan mengenai kekekalan maupun
penciptaan sementara dunia ini.
2. Metafisika (Tuhan).
Penciptaan dunia yang berlangsung lambat
laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta, sebab dunia tidak bisa maujud
dengan sendirinya. Juga sang pencipta bersifat immaterial,
sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia di ciptakan oleh
satu pencipta. Di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat material akan
membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah
musykil. Oleh karena itu dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak
berwujud benda. Dan karena dia bersifat immaterial, maka kita
tidak dapat mengenalinya lewat indra kita ataupun lewat imajinasi, sebab
imajinisasi hanya menggambarkan hal-hal di tangkap oleh indra.
Kekekalan dunia berarti kekekalan geraknya
juga, dan gerak sebagaimana di katakan oleh aristoteles, membutuhkan
penggerak atau penyebab efesien dari gerak itu. Jika penyebab
efesien ini berupa sebuah benda, maka kekuatannya tentu terbatas dan karenanya
tidak mampu menghasilkan suatu pengaruh yang
tak terbatas. Oleh sebab itu penyebab efesien dari gerak kekal
harus bersifat immaterial. Ia tidak boleh di hubungkan dengan materi ataupun di
pisahkan darinya, ada di dalam materi itu atau tanpa materi itu, sebab
penyatuan dan pemisahan, keterkandungan atau keterlepasan merupakan tanda-tanda
material, sedang penyebab efesien itu, sesungguhnya lepas dari itu semua.[6]
Tuhan menurut Ibnu Thufail adalah pemberi
wujud pada semua makhluk. Untuk membuktikan adanya Tuhan Ibnu Thufail
mengemukakan tiga argumen, yaitu:[7]
a. Argumen
Gerak (al-Harakat)
Gerak alam ini menjadi bukti tentang
adanya Allah, baik bagi orang yang meyakini alam baharu (hadits), berarti alam
ini sebelumnya tidak ada, kemudian ada. Oleh karena itu berarti ada
penciptanya. Pencipta inilah yang menggerakkan alam dari tidak ada menjadi ada
yang disebut dengan Allah. Tapi bagi orang yang meyakini alam kadim, alam ini
tidak didahului oleh tidak ada dan selalu ada, gerak alam ini kadim, tidak
berawal dan tidak berakhir, karena zaman tidak mendahuluinya (tidak didahului
oleh diam) adanya gerak ini menunjukkan secara pasti adanya penggerak.
b. Argumen
Materi (al-Madat)
Argumen ini menurut Ibnu Thufail dapat
membuktikan adanyaAllah, baik yang meyakini alam qadim maupun hadisnya. Dalam
hal ini Ibnu Thufail mengemukakan pokok pikirannya yang terkait antara satu
dengan yang lain, yaitu:
Segala yang ada ini tersusun dari materi
dan bentuk
Setiap
materi membutuhkan bentuk;
Bentuk tidak mungkin bereksistensi
penggerak
Segala yang ada (maujud) untuk
bereksistensi membutuhkan pencipta.
Dengan argumen di atas dapat dibuktikan
adanya Allah sebagai pencipta alam ini, Ia Maha Kuasa, bebas memilih serta
tidak berawal dan tidak berakhir.
c. Argumen
al-Gayyat dan al-Mayyat.
Pada argumen ini pernah dikemukakan oleh
al-Kindi dan Ibnu Sina, bahwa segala yang ada di alam ini mempunyai tujuan
tertentu dan merupakan inayah dari Allah.
3.Jiwa.[8]
Menurut
Ibnu Thufail jiwa manusia adalah makhluk yang tertinggi martabatnya. Manusia
terdiri dari dua unsur, yaitu jasad dan ruh (al-Madad wa al-Ruh). Badan tersusun
dari unsur-unsur, sedangkan jiwa tdak tersusun. Jiwa bukan jisim dan juga bukan
sesuatu daya yang ada didalam jiwa. Setelah badan hancur (mengalami kematian)
jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah selama
dalam jasad akan hidup dan kekal.
Menurut
Ibnu Thufail jiwa terdiri dari tiga tingkat, yakni dari yang rendah jiwa
tumbuhan dan jiwa hewan, kemudian tingkat jiwa yang martabatnya lebih tinggi
keduanya, yaitu jiwa manusia (al-Nafs al-Natiqat)
4. Kosmologi Cahaya.[9]
Ibnu Thufail menerima prinsip bahwa dari
satu tidak ada lagi apa-apa kecuali satu itu. Manivestasi kemajemukan,
kemaujudan dari yang satu dijelaskannya dalam gaya new platonik yang monoton,
sebagai tahap-tahap berurutan pemancaran yang berasal dari caHayya Tuhan.
Proses itu pada prinsipnya, sama dengan refleksi terus menerus caHayya matahari
kepada cermin. CaHayya matahari yang jatuh pada cermin yang dari sana menuju ke
yang lain dan seterusnya, menunjukkkan kemajemukan . semua itu merupakan
pantulan matahari dan bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu
sendiri, bukan pula suatu yang lain dari matahari dan cermin itu.
Kemajemukan caHayya yang dipantulkan itu
hilang menyatu dengan matahari kalau kita pandang sumber caHayya itu, tapi
timbul lagi bila kita lihat dicermin, yang disitu caHayya tersebut dipantulkan.
Hal yang sama juga berlaku pada cahaya pertama serta perwujudannya didalam
kosmos.
5. Epistimologi Pengetahuan.
Tahap pertama jiwa bukanlah
suatu tabularasa atau papan tulis kosong, imaji Tuhan telah tersirat di
dalamnya sejak awal, tapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai
dengan pikiran yang jernih tanpa prasangka keterlepasan dari prasangka dan
kecenderungan sosial sebagai kondisi awal semua pengetahuan, merupakan gagasan
sesungguhnya dibalik kelahiran tiba-tiba Hayy di pulau kosong. Setelah hal ini
tercapai pengalaman, inteleksi dan ekstasi memainkan dengan bebas peranan
mereka secara berurutan dalam memberikan visi yang jernih tentang kebenaran
yang melekat pada jiwa. Bukan hanya disiplin jiwa, tapi pendidikan indra dan
akal yang diperlukan untuk mendapatkan visi semacam itu. Kesesuaian antara
pengalaman dan nalar, disatu pihak, dan kesesuaian antara nalar dan intuisi,
dipihak lain membentuk esensi epistimologi Ibnu Thufail.
Setelah mendidik akal dan indra serta
memperhatikan keterbatasan keduanya, Ibnu Thufail akhirnya berpaling kepada
disiplin jiwa yang membawa kepada ekstasi, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam
taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, tapi
dapat dilihat secara langsung dan intiutif lewat caHayya yang ada
didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat
mata atau didengar telinga atau dirasa hati orang manapun. Taraf ekstasi
tak terkatakan atau terlukiskan sebab lingkup kata-kata terbatas pada apa yang
dapat dilihat, didengar atau dirasa. Esensi Tuhan yang
merupakan caHayya suci hanya bisa dilihat lewat caHayya didalam
esensi itu sendiri yang masuk dalam esensi itu lewat pendidikan yang tepat atas
indra, akal serta jiwa. Karena itu pengetahuan esensi merupakan esensi itu
sendiri.esensi dan visinya adalah sama.[10]
Dalam
epistimologi, Ibnu Thufail menjelaskan bahwa ma’rifat itu dimulai dari panca
indra. Dengan pengamatan dan pengalaman dapat diperoleh
pengetahuan indrawi, hal-hal yang bersifat metafisis dapat diketahui dengan
akal dan intuisi. Menurutnya ma’rifat dilakukan dengan dua cara, yaitu :[11]
1) Pemikiran/renungan akal, seperti yang
dilakukan filusuf muslim;
2) Kasyf ruhani (tasawwuf), seperti yang biasa
dilakukan oleh kaum sufi.
Ma’rifat
kasyf ruhani ini dapat diperoleh dengan latihan-latihan ruhani
dengan penuh kesungguhan
6. Etika/Akhlak.[12]
Manusia
merupakan suatu perpaduan tubuh, jiwa hewani dan esensi non-bendawi,
dan demikian menggambarkan binatang, benda angkasa dan Tuhan. Karena itu pendakian
jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek sifatnya,Dengan cara meniru
tindakan-tindakan hewan, benda-benda angkasa dan Tuhan. Mengenai peniruannya
pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya
dan kebutuhan-kebutuhan pokok serta menjaganya dari cuaca buruk dan
binatang buas, dengan satu tujuan yaitu mempertahankan jiwa hewani. Peniruan
yang kedua menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap
obyek-obyek hidup dan tak hidup, perenungan atas esensi Tuhan dan perputaran esensi
orang dalam ekstase.
Ibnu Tufail
tampaknya percaya bahwa benda-benda angkasa memiliki jiwa hewani dan tenggelam
dalam perenungan yang tak habis-habisnya tentang Tuhan. Terakhir, dia harus
melengkapi dirinya dengan sifat-sifat Tuhan baik yang positif maupun yang
negative, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginan
jasmaniah, dan sebagainya. Melaksanakan kewajiban diri sendiri, demi yang
lain-lainnya dan demi Tuhan, secara ringkas merupakan salah satu disiplin jiwa
yang esensial. Kewajiban yang terakhir adalah suatu akhir diri, dua
yang disebut sebelumnya membawa kepada perwujudannya dalam visi akan rahmat
Tuhan, dan visi sekaligus menjadi identik dengan esensi Tuhan.
7.
Rekonsiliasi (Tawfiq) Filsafat dan Agama.
Melalui
roman filsafat Hayy ibn Yaqhzan, Ibnu Thufail menekankan bahwa antara agama dan
Filsafat tidak bertentang, dengan kata lain, akal tidak bertentangan dengan
wahyu, tetapi jugadapat diketahui dengan akal. Dalam hal ini, Ibnu Thufail
berusaha dengan penuh kesungguhan untuk merekonsiliasikan antara filsafat dan
agama. Hayy dalam roman filsafatnya, ia lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam
bentuk esoteris, yang membawa hakikat (kebenaran). Sementara salman, ia
lambangkan sebagai wahyu (agama) dalam bentuk eksoteris. Kebenaran yang
dikehendaki agama, karena sumbernya sama, yakni Allah SWT.[13]
III. Pemikiran Filsafat Ibnu Rusyd dan Nasiruddin Ath Thusi
Pemikiran Ibnu Rusyd
Agama dan Filsafat
Masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal
yang baru dalam pemikiran islam, hasil pemikiran pemikiran islam tentang hal
ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama islam. Telah
tersebut diatas tentang reaksi Al-Ghazali terhadap pemikiran mereka seraya
menyatakan jenis-jenis kekeliruan yang diantaranya dapat digolongkan sebagai
pemikiran sesat dan kufur.
Terhadap reaksi dan sanggahan tersebut Ibnu Rusyd tampil membela
keabsahan pemikiran mereka serta membenarkan kesesuain ajaran agama dengan
pemikiran falsafah. Ia menjawab semua keberatan imam Ghazali dengan
argumen-argumen yang tidak kalah dari al-Ghazali sebelumya.
Menurut Ibnu Rusyd, Syara’ tidak bertentangan bertentangan dengan
filsafat, karena fisafat itu pada hakikatnya tidak lebih dari bernalar tentang
alam empiris ini sebagai dalil adanya pencipta. Dalam hal ini syara’pun telah
mewajibkan orang untuk mempergunakan akalnya, seperti yang jelas dalam firman
Allah : “Apakah mereka tidak memikirkan (bernalar)tentang kerajaan langit dan
bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (Al-Araf: 185) dan firman Allah
suiarah Al-Hasyr: 2 yang artinya: “Hendaklah kamu mengambil Itibar (ibarat)
wahai orang-orang yang berakal”. Bernalar dan ber’itibar hanya dapat
dimungkinkan dengan menggunakan Qias akali, karena yang dimaksud dengan I’tibar
itui tiadak lain dari mengambil sesuatu yang belum diktahui dari apa yang belum
diketahui.
Qyas akali merupakan suatu keperluan yang tidak dapat dielakkan.
Setiap pemikir wajib mempelajari kaidah-kaidah kias dn dalil serta mempelajari
ilmu logika dan falsafah. Bernalar dengan kaidah yang benar akan membawa kepada
kebenaran yang diajarkan agama, karena kebenaran tidak saling bertentangan,
tapi saling sesuai dan menunjang.
Seperangkat ajaran yang disebut dalam al-Qur’an dan al-Hadits
sebagai sesuatu yang pada lahirnya berbeda dengan filsafat, sehingga difahami
bahwa filsafat itu bertentangan dengan agama. Dalam hal ini Ibnu Rusyd menjawab
dengan konsep takwil yang lazim digunakan dalam masalah-masalah seperti ini.
Dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat yang harus difahami menurut lahirnya,
tidak boleh dita’wilkan dan ada juga yang harus dita’wilakan dari pengertian
lahiriah.
Adapun jika keterangan lahiriahnya sesuai dengan keterangan
filsafat, ia wajib diterima menurut adanya. Dan jika tidak, ia harus
dita’wilkan. Namun ta’wil itu sendiri tidak sembarang orang dapat melakukannya
atau disampaikan kepada siapa saja. Yang dapat melakukan ta’wil itu adalah para
filosof atau sebagian mereka, yakni orang-orang yang telah mantap dalam
memahami ilmu pengetahuan. Adapun penyampaian ta’wil itu dibatasi pada
orang-orang yang sudah yakin, tidak kepada selain mereka yang ampang menjadi
kufur.
Agama islam kata Ibn Rusyd tidak mengandung dalam ajarannya hal-hal
yang bersifat rahasia, seperti ajaran trinitas dalam agama Kristen. Semua
ajarannya dapat dipahami akal karena akal dapat mengetahui segala yang ada.
Dari itu, iman dan pengetahuan akali merupakan kesatuan yang tidak
bertentangan, karena kebenaran itu, pada hakikatnya adalah satu.
Akan tetapi, dalam agama ada ajaran tentang hal-hal yang ghaib
seperti malikat, kebangkitan jasad, sifat-sifat surga dan neraka dan lain-lain
sebagainya yang tidak dapat diapahami akal, maka hal-hal yang seperti itu kata
Ibn Rusyd merupakan lambing atau simbolm bagi hakikat akali. Dalam hal ini, ia
menyetujui pendapat imam al-Ghazali yang mengatakan, wajib kembali kepada
petunjuk-petunjuk agama dalam hal-hal yang tidak mampu akal memahaminya.
Metafisika
Dalil wujud Allah
Dalam membuktikan adanya Allah, Ibn Rusyd menolak dalil-dalil yang
pernah dkemukakan oleh beberapa golongan sebelumnya karena tidak sesuai dengan
apa yang telah digariskan oleh Syara’, baik dalam berbagai ayatnya, dan karena
itu Ibn Rusyd mengemukakan tiga dalil yang dipandangnya sesuai dengan al-Qur’an
dalam berbagai ayatnya, dank arena itu, Ibnu Rusyd mengemukakan tiga dalil yang
dipandangnya sesuai, tidak saja bagi orang awam, tapi juga bagi orang –orang
khusus yang terpelajar.
Dalil ‘inayah (pemeliharan)
Dalil ini berpijak pada tujuan segala sesuatu dalam kaitan dengan
manusi. Artinya segala yang ada ini dijadikan untuk tujuan kelangsungan
manusia. Pertama segala yang ada ini sesuai dengan wujud manusia. Dan kedua,
kesesuaian ini bukanlah terjadi secara kebetulan, tetapi memang sengaj
diciptakan demikian oleh sang pencipta bijaksana.
Dalil Ikhtira’ (penciptaan)
Dalil ini didasarkan pada fenomena ciptaan segala makhluk ini,
seperti ciptaan pada kehidupan benda mati dan berbagai jenis hewan,
tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Menurut Ibn Rusyd, kita mengamati benda mati
lalu terjadi kehidupan padanya,sehingga yakin adanya Allah yang menciptakannya.
Demikian juga berbagai bintang dan falak di angkasa tundujk seluruhnya kepada
ketentuannya. Karena itu siapa saja yang ingin mengetahui Allah dengan
sebenarnya, maka ia wajib mengetahui hakikat segala sesuatu di alam ini agar ia
dapat mengetahui ciptaan hakiki pada semua realitas ini.
Dalil Gerak.
Dalil ini berasal dari Aristoteles dan Ibn Rusyd memandangnya
sebagi dalil yang meyakinkan tentang adanya Allah seperti yang digunakan oleh
Aristoteles sebelumnya. Dalil ini menjelaskan bahwa gerak ini tidak tetap dalam
suatu keadaan, tetapi selalu berubah-ubah. Dan semua jenis gerak berakhir pada
gerak pada ruang, dan gerak pada ruang berakhir pada yang bergerak pad dzatnya
dengan sebab penggerak pertama yang tidak bergerak sama sekali, baik pada
dzatnya maupun pada sifatnya.
Akan tetapi, Ibn Rusyd juga berakhir pada kesimpulan yang dikatakan
oleh Aristoteles bahwa gerak itu qadim.
Sifat-sifat Allah.
Adapun pemikiran Ibn Rusyd tentang sifat-sifat Allah berpijak pada
perbedaan alam gaib dan alam realita. Untuk mengenal sifat-sifat Allah, Ibn
Rusyd mengatakan, orang harus menggunakan dua cara: tasybih dan tanzih
(penyamaan dan pengkudusan). Berpijak pada dasar keharusan pembedaan Allah
dengan manusia, maka tidak logis memperbandingkan dua jenis ilmu itu.
Materi dan forma
Seperti dalam halnya metafisika, ibnu rusyd juga di pengaruhi oleh
Aristoteles dalam fisika. Dalam teori Aristoteles, ilmu fisika membahas yang
ada (maujud) yang mengalami perubahan seperti gerak dan diam. Dari dasarnya
itu, ilmu fisika adalah materi dan forma.
Sifat-sifat jisim.
Adapun sifat-sifat jisim ada empat macam, yaitu: Gerak, Diam,
Zaman, Ruang
Bangunan alam.
Para filosof klasik mengatakan, bahwa bentuk bundar adalah yang
paling sempurna, sehingga gerak melingkar merupakan gerak yang paling Afdol.
Gerak inilah yang kekal lagi azali. Dengan sebab gerak ini, maka jisim-jisim
samawi memiliki bentuk bundar. Karena jisim-jisim ini bergerak melingkar, maka
alam semesta ini merupakan sesuatu planit yang bergerak melingkar.Dan planit
ini hanya satu saja, sehingga tidak ada kekosongan. Demikianlah alam falak itu
saling mengisi.
Jadi alam ini terdiri dari jisim-jisim samawi yang tunggal dan
benda-benda bumi yang terdiri dari percampuran emoat anasir melalui
falak-falak. Dari percampuran ini timbulah benda-benda padat, tumbuhan hewan,
dan akhirnya manusia.
Manusia
Dalam masalah manusia, Ibn Rusyd juga dipengaruhi oleh teori
Aristoteles. Sebagi bagian dari alam, manusia terdiri dari dua unsure materi
dan forma.. jasad adalah materi dan jiwa adalah forma. Seperti halnya
Aristoteles, Ibnu Rusyd membuat definisi jiwa sebagai “kesempurnaan awal bagi
jisim alami yang organis.” Jiwa disebut sebagai kesempurnaan awal untuk
membedakan dengan kesempurnaan lain yangmerupakan pelengkap darinya, seperti
yang terdapat pada berbagai perbuatan. Sedangkan disebut organis untuk
menunjukan kepada jisim yang terdiri dari anggota-anggota.
Kenabian dan Mu’jizat
Allah menyampaikan wahyu kepada umat manusia melalui rasulnya. Dan
sebagai bukti bahwa orang itu Rasul Allah, ia harus membawa tanda yang berasal
darinya, dan tanda ini disebut mukjizat. Pada seorang rasul, mukzizat itu
meliputi dua hal yang berhubungan dengan ilmu dan yang berhubungan dengan amal.
Dalam hal yang pertama, rasul itu memberitahukan jenis-jenis ilmu dan berbagai
amal perbuatan yang tidak lazim diketahui oleh manusia. Suatu hal yang diluar
kebiasaan pengetahuan manusia, sehingga ia tidak dapat mengetahuinya adalah
bukti bahwa orang yang membawanya adalah rasul yang menerima wahyu dari Allah,
bukan dari dirinya.
Ringkasnya Ibnu Rusyd membedakan dua jenis mukjizat: mukjizat
ekstern yang tidak sejalan dengan sifat dan tugas kerasulan, seperti
menyembuhkan penyakit, membelah bulan dan sebagainya. Dan mukjizat intern yang
sejalan dangan sifat dan tugas kerasulan yang membawa syariat untuk kebahagiaan
umat manuisia. Mukjizat yangpertama yang berfungsi sebagai penguat sebagai kerasulan.
Sedangkan yang kedua sebagai bukti yang kuat tentang kerasulan yang hakiki
Politik dan Akhlak
Seperti yang telah disebut oleh plato, Ibnu Rusyd mengatkan,
sebagai makhluk social, manusia perlu kepada pemerintah yang didasarkan kepada
kerakyatan. Sedangkan kepala pemerintah dipegang oleh orang yang telah
menghabiskan sebagian umurnya dalam dunia filsafat, dimana ia telah mencapai
tingkat tinggi . pemerintahan islam pada awalnya menurut Ibnu rusyd adalah
sangat sesuai dengan teorinya tentang revublik utama, sehingga ia mengecam
khalifah muawwiyah yang mengalihkan pemerintahan menjadi otoriter.
Dalam pelaksanaan kekuasaan hendaknya selalu berpijak pada keadilan
yang merupakan sendinya yang
esensial. Hal ini karena adil itu adalah produk ma;rifat, sedangkan kezaliman
adalah produk kejahilan.
Pemikiran Ibnu Rusyd di antaranya ialah:
Agama dan Filsafat
Masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal
yang baru dalam pemikiran islam, hasil pemikiran pemikiran islam tentang hal
ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama islam
Metafisika meliputi:
Dalil wujud Allah, Dalil ‘inayah (pemeliharan), Dalil Ikhtira’
(penciptaan),Dalil Gerak.,Sifat-sifat Allah.,Fisika meliputi, Materi dan forma,Sifat-sifat
jisim.,Bangunan alam.
Manusia
Dalam masalah manusia, Ibn Rusyd juga dipengaruhi oleh teori
Aristoteles. Sebagi bagian dari alam, manusia terdiri dari dua unsure materi
dan forma.. jasad adalah materi dan jiwa adalah forma.
Kenabian dan Mu’jizat
Allah menyampaikan wahyu kepada umat manusia melalui rasulnya. Dan
sebagai bukti bahwa orang itu Rasul Allah, ia harus membawa tanda yang berasal
darinya, dan tanda ini disebut mukjizat. Pada seorang rasul, mukzizat itu
meliputi dua hal yang berhubungan dengan ilmu dan yang berhubungan dengan amal.
Politik dan Akhlak
Seperti yang telah disebut oleh plato, Ibnu Rusyd mengatkan,
sebagai makhluk social, manusia perlu kepada pemerintah yang didasarkan kepada
kerakyatan. Sedangkan kepala pemerintah dipegang oleh orang yang telah
menghabiskan sebagian umurnya dalam dunia filsafat, dimana ia telah mencapai
tingkat tinggi .
Pemikiran
Filsafat Nasiruddin Ath Thusi
A.
Pemikiran Filsafat
Nashiruddin Al-Thusi
Abad 13 adalah masa kritis “kekhalifahan” Islam, sehingga sangat sedikit
pemikiran politik yang berkembang, bahkan sulit menemukan pemikir politik yang
orisinal pada periode pasca Mongol tersebut. Akan tetapi Al-Thusi
merupakan
seorang pemikir cemerlang yang memainkan peran intelektual dan pemikiran
pemerintahan pada masanya. Al-Thusi tidak menciptakan
pemikiran baru, tetapi ia mengadopsi dan mengembangkan pemikiran yang sudah
ada. Ia
mempelajari filsafat Yunani dan Islam, misalnya lewat karya-karya Aristoteles,
Al-Farabi, Ibnu Sina, dan sebagainya. Ia juga dikenal ahli dalam bidang teologi
dan fikih yang sangat berpengaruh di Nishapur, sebuah kota yang menjadi pusat
peradaban yang sangat berpengaruh.
Dalam pemikiran agama, Al-Thusi mengadopsi ajaran-ajaran Neoplatonik Ibnu Sina dan Suhrawardi,
dimana keduanya menyebutkan bahwa demi alasan-alasan taktis, orang bijak (hukama’) bukan sebagai filsuf. Nashiruddin Al-Thusi sendiri berpendapat bahwa
eksistensi Tuhan tidak bisa dibuktikan, namun sebagaimana doktrin Syiah,
manusia membutuhkan pengajaran yang otoritatif, sekaligus filsafat.
Dalam pemikiran politik, Al-Thusi cenderung menyintesiskan ide-ide
Aristoteles dan tradisi Iran. Ia
menggabungkan filsafat dengan genre nasihat kepada raja, sehingga ia tetap
memelihara hubungan antara Syiah dan filsafat. Buku etiknya disajikan sebagai
sebuah karya filsafat praktis. Karya tersebut membahas persoalan individu,
keluarga, serta komunitas kota, provinsi, desa, atau kerajaan.
Al-Thusi
bermaksud menyatukan filsafat dan fikih berdasarkan pemikiran bahwa perbuatan
baik mungkin saja didasarkan atas fitrah atau adat. Fitrah memberikan manusia
prinsip-prinsip baku yang dikenal sebagai pengetahuan batin dan kebijaksanaan.
Sedangkan adat merujuk pada kebiasaan komunitas, atau diajarkan oleh seorang
nabi atau imam, yaitu hukum Tuhan, dan ini merupakan pokok bahasan fikih.(Murtiningsih, 2012) Keduanya dibagi
lagi menjadi norma-norma untuk individu, keluarga, dan penduduk desa atau kota.
Menurutnya filsafat mempunyai kebenaran-kebenaran yang tetap, sedangkan fikih
ataupun hukum Tuhan mungkin berubah karena revolusi atau keadaan, perbedaan
zaman dan bangsa serta terjadinya peralihan dinasti. Beliau menafsirkan Negara
atau dinasti sepeti daulah menurut pandangan Ismailiyah, hal ini terlihat dari
pandangannya tentang perubahan pada hukum Tuhan oleh nabi-nabi, penafsiran
Fuqaha’ dan juga para imam. Sehingga Al-Thusi menganggap syariat sebagai suatu
tatanan hukum yang tidak mutlak dan final, sebagaimana diyakini kalangan Sunni.(Black, 2006).
Pemikiran
filsafat Al-Thusi dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.
Filsafat Metafisika
Menurut
Al-Thusi, metafisika terdiri atas dua bagian, yaitu ilmu Ketuhanan (‘Ilmi
Ilahi) dan filsafat pertama (Falsafah Ula). Ilmu Ketuhanan meliputi Tuhan,
akal, dan jiwa, serta pengetahuan tentang alam semesta dan hal-hal yang
berhubungan dengan alam semesta yang merupakan filsafat pertama. Pengetahuan
tentang kelompok-kelompok ketunggalan dan kemajemukan, kepastian, dan
kemungkinan, esensi dan eksistensi, kekekalan dan ketidakkekalan juga membentuk
bagian dari filsafat pertama tersebut. Diantara cabang (furu’) metafisika itu
termasuk pengetahuan ke-Nabian (Nubuwwat). Jelajah subjek itu menunjukkan bahwa
metafisika merupakan esensi filsafat Islam dan lingkup sumbangan utamanya bagi
sejarah gagasan-gagasan.(Syarif, 1963)
Bagi
Al-Thusi eksistensi Tuhan sebagai postulat (yang sudah terang akan kebenaran
bahwa Allah itu ada), harus diyakini oleh manusia dan bukan harus dibuktikan.
Pembuktian eksistensi Tuhan ataupun wujud Tuhan bagi manusia adalah mustahil,
karena pemahaman manusia tentang wujud Tuhan sangat terbatas untuk dipikirkan.
Meskipun Al-Thusi membagi metafisika atas ilmu Ketuhanan dan filsafat pertama,
tetapi di dalamnya tidak mencakup kajian pembuktian eksistensi Tuhan, karena
ini merupakan hal yang di luar batas kemampuan pembuktian manusia. Al-Thusi
berpendapat sama halnya dengan filsuf lainnya yang mengulas teori ex nihilo
yaitu sebuah teori yang menyatakan adanya penciptaan sesuatu dari tidak ada.
Sebagaimana
yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ ayat 30, yaitu:
أَوَلَمْ
يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا
فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاء كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا
يُؤْمِنُونَ.
Artinya:
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka
tidak juga beriman?” (QS.Al-Anbiya’:30).
2.
Filsafat Etika
Tujuan
dari filsafat etika (akhlak) Al-Thusi ini adalah untuk menemukan cara hidup
untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Agar bisa mencapai kebaikan maka dalam hal
ini manusia dituntut untuk sering berbuat baik, menempatkan kebaikan diatas
keadilan dan cinta.
Menurut
Plato, yang termasuk perbuatan baik menyangkut kebijaksanaan, keberanian,
kesederhanaan, dan keadilan. Keempat hal ini termasuk pada trinitas jiwa yang
meliputi akal, kemarahan, dan hasrat. Namun Al-Thusi yang sependapat dengan
Ibnu Maskawaih. Ia menempatkan kebajikan diatas keadilan, dan cinta sebagai
sumber alam kesatuan, diatas kebajikan.
Perbuatan
baik selalu diusik oleh perbuatan jahat. Selain dari kebaikan dan kejahatan,
satu hal yang mempengaruhi etika adalah penyakit. Penyakit yang dimaksud adalah
penyakit moral manusia, yang merupakan penyimpangan jiwa dari keseimbangan.
Menurut Al-Thusi, penyakit moral ini bisa disebabkan oleh tiga sebab, yaitu
keberlebihan, keberkurangan, ketidakwajaran akal, dan kemarahan, serta hasrat. (M.M.Syarif, 1993)
Dari
teori tiga sebab ini, Al-Thusi menggunakannya dengan menggolongkan tiga
golongan penyakit fatal akal teoritis yang terbagi menjadi tiga karakter,
yaitu:
a.
Kebingungan
(hairat)
Kebingungan
disebabkan oleh ketidakmampuan jiwa untuk membedakan antara kebenaran dan
kesalahan dikarenakan adanya bukti saling bertentangan dan argumentasi yang
kacau, untuk dan terhadap suatu masalah yang kontroversial.
b.
Kebodohan sederhana
(Jahl Basith)
Kebodohan
sederhana terdapat pada kekurangtahuan manusia akan suatu hal tanpa mengira
bahwa dia mengetahuinya. Kebodohan semacam itu merupakan suatu keadaan yang
bisa dijadikan titik tolak untuk mencari pengetahuan, tetapi sangatlah fatal
kalau merasa puas dengan keadaan begitu.
c.
Kebodohan fatal
(Jahl Murakkab)
Kebodohan
fatal adalah kekurangtahuan manusia akan suatu hal dan dia merasa mengetahui
hal itu. Walaupun dia bodoh, dia tidak tahu bahwa dia memang bodoh. Menurut
Al-Thusi, penyakit ini adalah penyakit yang hampir tak dapat disembuhkan,
tetapi dengan upaya keras dalam bidang matematika barangkali penyakit ini bisa
ditekan kefatalannya menjadi kebodohan bersama.(Suryadi, 2009)
Pandangan
Al-Thusi secara keseluruhan, ia menganggap bahwa manusia adalah makhluk sosial,
maka untuk memperkuat sikap daripada manusia itu sendiri, manusia mesti
mencapai sebuah watak yang baik terhadap sesamanya sampai batas sempurna.
Kesempurnaan ini disebutnya dengan peradaban. Manusia hidup saling membutuhkan
maka sangat mustahil manusia bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
3.
Filsafat Jiwa
Pandangan
Al-Thusi tentang jiwa, ia berasumsi bahwa jiwa merupakan suatu realitas yang
bisa terbukti sendiri dan karena itu tidak memerlukan lagi bukti lain, lagi
pula jiwa tidak bisa dibuktikan secara kasat mata. Masalah semacam ini,
pemikiran yang lepas dari eksistensi orang itu sendiri merupakan suatu
kemustahilan dan kemusykilan yang logis sebab suatu argumen masyarakat tentang
adanya seorang ahli argumen dan sebuah masalah untuk diargumentasikan,
sedangkan dalam hal ini, keduanya sama yang bernama jiwa.(M.M.Syarif, 1993) Jiwa mmpunyai
sifat sebagai substansi sederhana dan immaterial yang dapat merasa sendiri.
Jiwa berkerja untuk mengontrol tuubuh melalui otot-otot dan alat-alat perasa,
tetapi jiwa tidak bisa dirasa lewat alat-alat tubuh.
IV. Pemikiran Filsafat ibnu
Ikhwan Ash Shafa dan Mulla Shadra
A.
PemikiranIkhwan al-SafaTentang Ketuhanan dan Jiwa Manusia
1.
Metafisika
Tentang ketuhanan, Ikhwan al-Safapemikirannya berlandaskan pada bilangan. Menurut
mereka, ilmu bilangan ialah lidah yang mempercakapkan kepada tauhid, al-tanzih,
meniadakan sifat dan tasybih}. serta
menolak sikap orang yang mengingkari keesaan
Tuhan. Maka pengetahuan terhadap angka
![]()
25Majid Fakhry, Sejarah Filsafat
Islam: Sebuah Peta Kronologis, (Terj.) Zainul Am. (Bandung:
Mizan, 2002), 64.
26Omar A. Farukh,
Aliran-Aliran Filsafat
Islam (Bandung; Nuansa
Cendekia, 2004), 181.
membawa kepada
pengakuan tentang keesaan Tuhan, karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah
semuanya.27
Tentang penciptaan alam, pemikiran Ikhwan al-Safaini merupakan
perpaduan antara pemikiran Aristoteles, Plotunis, dan Mutakallimin.
Menurut mereka Tuhan adalah maha
pencipta dan maha Esa. melalui kemauannya, Tuhan menciptakan sebuah akal aktif atau akal pertama secara
proses emanasi. Jadi, apabila Tuhanqadim dan baqi, maka akal
pertama pun demikian halnya. Dalam
akal pertama, lengkap terdapat segala potensi yang akan muncul pada wujud selanjutnya. Maka, secara tidak
langsung Tuhan melakukan hubungan dengan alam materi, sehingga
kemurnian dari ajaran tauhid dapat terjaga dengan baik. Berikut ini adalah proses
emanasi yaitu Akal aktif atau akal pertama,
Jiwa universal, Materi pertama, Potensi dari jiwa universal, Materi kedua atau materi absolut, Alam dari planet-planet, Anasir-anasir alam terendah, seperti udara, air, api, dan
tanah., dan Materi gabungan yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan, mineral, dan hewan.
Proses penciptaan secara emanasi menurut
al-Shafa dibagi menjadi
dua
macam antara lain:
a.
Penciptaan
sekaligus yang di mana terdapat dalam alam rohani, yaitu akal aktif, jiwa
universal dan materi pertama.
b.
Penciptaan
gradual yang di mana terdapat dalam jasmani, yaitu jism mutlak dan seterusnya, serta alam semesta
yang memiliki awal dan akan berakhir di masa tertentu.
Salah satu dari pemikiran
Ikhwan al-Safayang mengagumkan adalah rentetan emanasi
yang kedelapan, mereka mendahului Charles Darwin (1809- 1882 M) mengenai rangkaian sebuah kejadian
alam semesta secara evolusi.28
2.
Jiwa Manusia
![]()
Jiwa seorang manusia bersumber dari jiwa Universal. Pertumbuhan dan perkembangan dari jiwa manusia dipengaruhi
lanagsung oleh sebuah materi disekelilingnya. Jiwa dibantu oleh akal, agar
potensi jiwa itu tidak kecewa dalam perkembangannya.
27Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, 48.
28Budi Ichwayudi, Filsafat di Dunia Islam (Surabaya: Jauhar
Surabaya, 2008), 103-104.
Jiwa seorang
anak, awalnya bagaikan selembar kertas berwarna putih yang masih bersih. Selembar
kertas putih itu tertulis dengan terdapat tanggapan
indera yang menguhubungkan
menuju otak bagian depan yang terdapat sebuah daya imajinasi, kemudian naik kepada sebuah daya berpikir terdapat
pada otak yang bagian tengah.
Di tingkat ini seseorang bisa membedakan antara
salah dan benar,
antara buruk dan baik. Lalu dihubungkan menuju daya ingat yang berada
pada otak di bagian belakang. Di
tingkatan ini manusia mampu menyimpan beberapa
hal-hal abstrak yang akan diterima oleh daya untuk berpikir. Tahapan
tingkatan terakhir yakni daya bicara,
di mana kemampuan untuk mengungkapkan sebuah
pikiran dan ingatan melalui tutur kata kepada pendengar, atau menuangkan bahasa tulisan untuk pembaca.
Untuk pemikiran
tentang moral, Ikhwan al-Safamemiliki sifat rasionalistis. Utnuk mencapai sebuah moral, manusia
harus melepas diri dari sebuah ketergantungan terhadap
sebuah materi. Manusia
harus bisa memupuk
rasa kasih dan cinta untuk mencapai pada keadaan
diluar kesadaran diri. Percaya tanpa melakukan usaha, dan mengetahui tanpa melakukan sesuatu
adalah sia-sia. Kesabaran, kasih sayang, ketabahan, kelembutan dan kehalusan
keadilan, gemar berkorban terhadap orang lain, mengutamakan kebajikan
rasa syukur yang kesemuannya
harus dapat menjadi sebuah karakteristik pribadi. Dan sebaliknya, kemunafikan, bahasa kasar, kezaliman, kepalsuan, dan penipuan
harus di hilangkan agar muncul perasaan yang suci, kecintaan
terhadap sesama, dan keramahan terhadap
lingkungan sekitar.
B.
Pendapat Ikhwan al-Safatentang Sains
Ikhwan
al-Safadalam risalah ke-7, telah menulis salah satu pasal tentang jenis-jenis ilmu.Ikhwan al-Safa mencoba
untuk menyampaikan ilmu-ilmu apa saja yang perlu dipelajari, ilmu yang lebih dulu dan penting untuk diketahui dan dipahami,
serta bagaimana hubungan antara satu ilmu dengan ilmu-ilmu yang lain. Ikhwan
al-Safamengatakan bahwa jenis-jenis ilmu tersebut adalah
sebagai petunjuk bagi para penuntut ilmu dan supaya
mereka mendapatkan petunjuk terhadap tujuan
yang diharapkannya.
Struktur sains
yang ditulis Ikhwan al-Safadidasarkan pada informasi atau ilmu-ilmu yang sedang berkembang dan
dipelajari pada masanya, baik ilmu yang berasal
dari tradisi yang sudah berkembang. Ikhwan al-Safa mengklasifikasikan menjadi tiga bagian utama; ilmu
pendahuluan atau keterampilan,ilmu agama, dan
filsafat. Ikhwan al-Safadalam menjelaskan macam-macam ilmu lebih banyak
dan lebih terperinci dibandingkan
al-Farabi terutama dalam ilmu agama atau syariah. Ikhwan al-Safamenyebutkan bahwa ilmu agama ada enam macam;
pertama adalah ilmu turunnya
ayat (al-tanzil). Kedua adalah hermeneutika (al-ta’wil). Ketiga adalah ilmu riwayat dan khabar. Kempat adalah
ilmu fikih, sunnah dan hukum-hukum. Kelima
adalah ilmu nasehat, zuhud dan tasawwuf. Keenam adalah ilmu takwil mimpi.29
C.
Hubungan Agama dan Sains Menurut Ikhwan al-Safa
Ikhwan al-Safamenolak adanya dikotomi atau juga bisa disebut pembedaan antara dua hal yang saling bertentangan yakni antara sains
(ilmu pengetahuan) dan ajaran tauhid (ilmu Agama).
Ikhwan al-Safaberpendapat bahwa apabila ada dikotomi antara
sains dan agama,
maka akan berdampak
dalam gugurnya kebenaran dan argumentasi. Di mana kebenaran
dan argumentasi tersebut
menyebutkan bahwa asal ilmu pengetahuan dan semua sumber itu berasal
dari Yang Tunggal
yaitu Tuhan yang Maha
Esa.Jadi sebuah cara pandang yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan Yang Maha
Esa, baik dari objek non-fisik maupun objek
fisik, baik dari ilmu Fisika maupun ilmu Agama. Prinsip inilah yang disebut dengan paradigma
Tauhid.
![]()
Ikhwan al-Safamenempatkan sains berada dalam kerangka umum filsafat atau ilmu rasional. Di mana sains tersebut
dalam sebuah pengertian modern yaitu yang
memiliki keterbatasan pada ilmu fisik atau empiris seperti Biologi, Fisika, Matematika, dan Kimia. Beberapa
ilmu tersebut disebut
dengan ilmu teoritis.
Sementara ilmu praktis yaitu antara lain seperti ekonomi, politik, dan
ilmu etika. Ilmu praktis dan ilmu
teoritis disini berada dalam filsafat/ilmu rasional atau yang biasa disebut
aqliyyah (ilmu yang bisa didapat
melalui pemahaman-pemahaman daya
29Humaidi, “Hubungan Harmonis
Antara Sains dan Agama Dalam Pemikiran Al-Farabi
dan Ikhwan Al-Shafa”, Jurnal Komunikasi, Vol. 17, No. 01, April
2018, 157.
intelektual).
Sementara ilmu Agama disebut naqliyyah yaitu ilmu yang wajib di pelajari dan dipahami oleh seluruh umat
agama Islam seperti al-Qur’an, tafsir, hadits, dan lain-lain.
Ikhwan al-Safa
berpendapat bahwa Agama dan Ilmu rasional atau sains merupakan dua aspek Ketuhanan yang memiliki kesamaan dalam
tujuan tertinggi. Keduanya hanya
memiliki perbebedaan dalam hal furu’ atau cabang, karena tujuan yang paling tinggi dari ilmu rasional
atau filsafat ini yaitu Tuhan. Tujuan filsafat
dalam memikirkan berbagai ilmu Matematika adalah sebuah langkah dan
jalan menuju berbagai ilmu Fisika.
Sementara berbagai dari ilmu Fisika memiliki tujuan untuk bergerak dan naik keatas menuju ilmu-ilmu yang Ilahidi
manahal tersebut merupakan batas akhir yang diraih dengan
berbagai macam pengetahuan hakiki dan puncak tujuan ahli hikmah. Filsafat
memiliki tujuan tertinggi yaitu menyerupai Tuhan dengan cara mengenal-Nya dan mengaplikasikannya dengan berbagai tindakan
yang baik dalam masyarakat, sedangkan
Agama sendiri memberikan jalan dan petunuk
untuk mendapatkan cara agar sampai menuju kepada Tuhan.
Secara terang-terangan, Ikhwan al-Safamenyatakan bahwa baik agama
dan ilmu filsafat (sains)memiliki
perbedaan, tetapi dalam perbedaan tersebut hanyalah sebatas pada metode dan proses dalam mendapatkan sebuah
pengetahuan. Dalam konteks objek dan
subjekpengetahuan dari agama dan ilmu filsafat adalah sama. Antara keduanya sama-sama
memberikan perhatian kepada
prinsip-prinsip tertinggi wujud. Keduanya mempelajari mengenai
prinsip dan sebab pertama bagi wujud. Kemudian
keduanya juga memiliki tujuan yang sama yakni sebuah kebahagiaan tertingi baik bagi wujud-wujud lain maupun
kebahagiaan yang berkaitan dengan tujuan
hidup manusia. Bahkan, pada konteks metode dan proses, apabila ilmu agama
menggunakan metode filsafat dan juga sekaligusmenerapkan metode persuasi yaitu sebuah sistem komunikasi yang ditujukan untuk mempengaruhi seseorang,makaagama juga dapat sampai
menujutingkat kebenaran filsafat.Ikhwan al-Safamenyatakan bahwa perbedaan antara
filsafat dan agama dalam berbagai
cara untuk mencapai-Nya
adalah niscaya, dikarenakanjiwa dan kemampuan dari setiap manusia
itu berbeda-beda dalam menangkap suatu kebenaran.30
30 Ibid., 152-163.
Dalam pemikiran Ikhwan al-Safamengenai Al-Tawfq dan al-Talfiq,
Ikhwan al-Safaini berusaha untuk memadukan atau
rekonsiliasi (tawfiq) antara filsafat
dengan agama-agama yang ada. Mereka beranggapan bahwa syari’at sudah tercemar berbagai
macam kesesatan dan kejahilan, oleh karena itu sebuah jalan pembersihannya
adalah sebuah filsafat. Apabila dipertemukannya antara Syari’at Arab dan filsafat
Yunani, maka akan menghasilkan sebuah kesempurnaan.
Mereka menempatkan atau memposisikan filsafat
diatas dari agama dengan
mengharuskan filsafat menjadi sebuah landasan dalam agama yang akan dipadukan dengan ilmu pengetahuan, karena
adanya pernyataan dari al-Qur’anal- Kari>m yang berkonotasidengan indrawi
dimaksudkan supaya sesuai dengan tingkatan
dari nalar masyarakat awam pada waktu itu. Untuk itu Ikhwan al- Safaberusaha dengan gigih untuk memadukan
antara filsafat dengan agama. Jadi, harus
memunculkan sebuah tingkatan kepercayaan yang dapat menjadi tingkat
kepercayaan yang lain,
yaitu tingkat kepercayaan yang padu bagi keduannya (orang
awam dan orang pilihan), yang berpusat dari akal, disangga
oleh kitab suci, dan juga
dapat diterima oleh seluruh
kelompok pencari sebuah
kebenaran.
Ikhwan al-Safajuga memadukan berbagai agama yang berkembang seperti Islam,
Yahudi, Majusi, Kristen, dan yang lain pada waktu itu dengan berasaskan filsafat. Menurut mereka tersebut tujuan
dari sebuah agama itu sama, yakni untuk mendekatkan
diri mereka kepada sang pencipta. Hanya berbeda tentang syari’at antar agama. Mereka menyatukan semuanya
dengan tujuan untuk dapat menggantikan kekuasaan Daulah Abbasiyahdi
mana berada pada sebuah kerusakan dengan negara baru yang mereka impikan
yaitu adanya persatuan
dalam perbedaan.31
Usaha dari al-Tawfiq diatas akan dapat menghasilkan kesatuan mazhab dan juga kesatuan filsafat. Hasil akhirnya akan melahirkan sesuatu
yangdi mana disebut
dengan al-Tawfiq (eklektik)32,
yang di mana pada waktu itu memadukan seluruh
pemikiran yang berkembang, seperti pemikiran Yunani, Persia, dan semua agama.
31Hasyimsyah Nsution, Filsafat Islam, 46-47.
32Eklektik adalah sikap berfilsafat dengan cara mengambil
teori yang sudah ada dan memilah mana yang disetujui dan mana yang tidak
disetujui sehingga dapat selaras dengan semua teori itu. Hal ini dilakukan agar dapat mengambil nilai yang berguna
dan dapat diterima.
Kemudian, sumber
dari ajaran mereka
ialah Sokrates, Plato,
Zoroaster,Muhammad, Ali, Nuh, Isa,
dan Ibrahim.
Eklektik atau talfiq yang telah mereka lakukan
yaitu dengan cara mengambil
berbagai ajaran dari sumber manapun yang mereka nilai baik dan benar selama tidak adanya pertentangan dengan
ajaran Islam. Ajaran eklektik (talfiq) Ikhwan al-Safaini bukanlah sebuah
kemustahilan karena yang mereka maksudkan bahwa Islam itu ajaran
yang utama, dan berbagai ajaran
yang lainnya hanya menjadi pelengkap dengan tujuan untuk dapat memudahkan pemahan Islam itu sendiri.
D.
Kesimpulan
Ikhwan al-Safa
adalah sekelompok pemikir
Islam yang melakukan
pergerakan secara rahasia.
Mereka juga menamai
diri mereka sebagai
Ahl al- Adl,Khulan al-Wafa’, dan Abna’ al-Hamd, mungkin dikarenakan baru
terungkapnya setelah berkuasanya Dinasti Buwaihi pada tahun 983 M di Bagdad dan adanya juga tendensi
politis. Terdapat sebuah kemungkinan bahwa kerahasiaan kelompok ini dipengaruhi oleh sebuah paham
yang bernama paham taqiyah, yang di mana berada dikawasan penduduk yang bermayoritaskan
aliran Sunni. Ada kemungkinan juga kerahasiaan dari kelompok ini karena mereka mendukung paham Mu’tazilah. Kalangan
dari paham Syiah menyebut bahwa Ikhwan al-Safaini bagian dari kelompok mereka.33 Pimpinan
utamanya adalah Zayid ibn Rifa’ah dan anggotanya adalah Abu Sulaima n Muhammad Ibn Ma’syar al-Busti
(populer dengan sebutan
al- Muqaddisi), Abu al-Hasan
Ali al-Zanjani, Abu Ahmad al-Mahrajani dan al-A’ufi.
Ikhwan al-Safa lebih banyak memperhatikan bidang pendidikan. Mereka
mengutamakan
pengajaran dan pendidikan dalam rangka pembentukan pribadi, jiwa, dan akidah. munculnya Ikhwan al-Safa berawal dari sebuah keprihatinan dalam
pelaksanaan dalam ajaran akidah Islam yang terpengaruhi oleh ajaran yang
berasal dari luar Islam dan juga
untuk menumbuhkan kembali rasa kecintaanterhadap ilmu pengetahuan di kalangan
umat Muslim.Ikhwan al-Shafa
memiliki karya yang monumental yaitu ensiklopedi Rasa’il Ikhwan al-Safa. Didalam karyanya ini, Ikhwan al-Safaberupaya mensistematisasikan tema-tema filosofis
dalam tradisi ilmiah Islam.
![]()
33Amroeni Drajat, Filsafat Islam:
Buat yang Pengen
Tahu, 56.
Karya atau juga kitab ini didalamnya berisi berbagai disiplin
ilmu pengetahuan yang sudah
berkembang sekitar pada abad ke-10 dan ke-11 di dunia Islam. Berbagai disiplin ilmu ini dikumpulkan menjadi 52
risalah ilmiah, di mana risalah ilmiah ini sangat maju pada
zaman nya.
Tentang ketuhanan, Ikhwan al-Safa dalampemikirannya berlandaskan pada
bilangan. Dalam pengetahuan terhadap angka, di mana hal tersebut membawa kepada pengakuan terhadap
keesaan Tuhan, karena apabila angka satu terjadikerusakan, maka rusaklah semuanya.
Tentang penciptaan terhadap alam, pemikiran Ikhwan al-Safaini adalah perpaduan antara pemikiran Aristoteles, Plotunis, dan Mutakallimin. Menurut mereka Tuhan merupakan maha
Esa dan maha pencipta. Melalui
kemauannya sendiri, Tuhan menciptakan sebuah akal aktif atau akal pertama secara proses Emanasi. Menurut Ikhwan
al-Safa, jiwa seorang manusia
bersumber dari jiwa Universal. Untuk pemikiran tentang moral, menurut Ikhwan al-Safa dalam mencapai sebuah
moral, manusia haruslah melepas diri dari sebuah
ketergantungan terhadap sebuah
materi.
Ikhwan al-Safa mencoba untuk menyampaikan berbagai ilmu apa saja yang perlu dipelajari, serta bagaimana
hubungan antara satu ilmu dengan banyak ilmu
yang lain. Ikhwan al-Safa
mengklasifikasikan menjadi tiga bagian utama yakni antara lain: ilmu keterampilan atau
pendahuluan, ilmu agama, dan filsafat.Ikhwan al- Safamenolak adanya dikotomi antara sains (ilmu pengetahuan) dan
ajaran tauhid (ilmu Agama). Ikhwan
al-Safaberpendapat bahwa Agama dan Ilmu rasional atau sains adalah dua aspek Ketuhanan yang memiliki kesamaan
dalam mencapai tujuan
tertinggi. Keduanya hanya berbeda dalam hal furu’ ataucabang, karena tujuan tertinggi dalam ilmu rasional
atau filsafat ini adalah menyerupai Tuhan dengan cara
mengenal-Nya dan mengaplikasikannya dengan berbagai tindakan
yang baik bersama masyarakat, sedangkan Agama
sendiri memberikan jalan dan petunjuk untuk
mendapatkan cara agar sampai menuju Tuhan. Oleh karena itu Ikhwan al- Safaberusaha
memadukan (at-Tawfiq) antara
agama dengan filsafat dan juga antara berbagai
agama yang ada.Apabila dipertemukannya antara Syari’at
Arab dan filsafat
Yunani, maka akan menghasilkan sebuah kesempurnaan.
PEMIKIRAN
FILSAFAT ISLAM MULLA SADRA
1.
Kehakikian
Eksistensi (al-ashâlah al-wujud)
Sesudah Suhrawardi, sejarah tradisi
filsafat berlanjut pada arah yang sama, memunculkan prestasi lain yang juga
bersifat fundamental seperti prestasi sebelumnya. Seperti munculnya satu jenis
filsafat Eksistensialime Islam, yang secara resmi di sebut dengan ashalat al-
wujud. Pendiri mazhab filsafat ini adalah Shadr al- Dien Syirazi (Mulla Sadra)
yang menyebut metodologi pemikirannya metafilsafat (al- Hikmat
al-Muta’aliyah)[1][6]
Maksud (al-ashâlah al-wujud) dalam filsafat Mulla Shadra adalah
bahwa setiap wujud kontingen (mumkin al-wujud) terjadi atas dua modus (pola
perwujudan): eksistensi dan kuiditas (esensi). Dari kedua modus itu, yang
benar-benar hakiki (real) secara mendasar adalah eksistensi, sedangkan kuaditas
(esensi ) tidak lebih dari “penampakan” (apperiance) belaka.
Para filosof muslim sebelum Mulla Shadra telah membahas persoalan
ini. Menurut Ibnu Sina, eksistensi mendahului esensi . Eksistensi bersifat
primer dan merupakan satu-satunya hakikat atau realitas yang dimiliki Tuhan,
sedangkan esensi dan sifat-sifatnya
bersifat skunder. Namun bagi Ibnu Sina, eksistensi dan esensi ini, keduanya merupakan sama-sama realitas
yang nyata. Sejalan dengan itu, menurut Ibnu Arabi, eksistensi mendahului
esensi . Eksistensi adalah realitas yang sesungguhnya dan realitas itu hanya
satu yaitu Tuhan. Sedangkan esensi tidak
lain adalah bentuk-bentuk dalam pengetahuannya.
Sebaliknya, menurut Suhrawardi esensi lebih fundamental dari esistensi, sebab
eksistensi hanya ada dalam pikiran manusia. Yang merupakan realitas yang
sesungguhnya adalah esensi yang bagi
Suhrawardi tidak lain dari pada bentuk-bentuk cahaya dari maha cahaya, Tuhan.
Cahaya itu hanya satu sedangkan benda-benda yang beranekaragam adalah gardasi
intensitasnya atau kebenderangannya.
Mulla Shadra pada mulanya,
mengikuti pendapat Suhrawardi diatas, tetapi kemudian membalik ajaran tersebut
dengan mengambil pandangan Ibnu Arabi tentang prioritas eksistensi terhadap
esensi, namun menolak Ibnu Arabi tetang wahdat al-wujud, ketunggalan wujud.
Bagi Sadra benda-benda disekitar kita, semesta ini, bukan hanya ilusi tetapi
benar-benar mempunyai eksistensi sama seperti eksistensi Tuhan. Namun,
eksistensi yang merupakan realitas tersebut tidak pernah bisa ditangkap oleh rasio,
karena rasio hanya mampun menangkap esensi
atau gagasan umum. Karena itu, ada perbedaan mendasar antara esensi dengan eksistensi. Bagi Shadra, eksistensi
dalah realitas objektif di luar pikiran, sedang esensi adalah gambaran umum tentang realitas atau
benda yang ada dalam pikiran. Namun demikian, gambaran umum tersebut juga tidak
bisa dianggap sebagai cerminan hakikat wujud, karena transformasinya ke dalam
konsep mental yang abstrak pasti mengandung kesalahan.
Dalam kaitan ini perlu dikemukakan bahwa di dalam pengalamannya
terhadap wujud, Mulla Shadra telah mempersatukan secara sempurna kedua aspek
kehidupan spiritual yaitu pemikiran analitis-rasional dan pengalaman intuitif
secara langsung. Bagi mereka yang sudah terpadu dalam dirinya antara pemikiran
analitis-rasional dan pengalaman intuitif secara langsung, seperti halya Mulla
Sadra, bisa merasakan bahwa sesungguhnya kenikmatan dan kebahagiaan yang
bersifat spiritual pada dasarnya adalah juga kenikmatan dan kebahagiaan
intelektual. Dengan kata lain, bisa dinyatakan bahwa sesungguhnya kebenaran
yang diperoleh melalui pengelaman mistis adalah kebenaran yang bersifat
intelektual, dan pengalaman mistis sebenarnya adalah pengalaman yang bersifat
kognitif. Pengelaman yang bersifat intuitif sama sekali tidak bertentagan
dengan penalaran, bahkan ia dipandang sebagai bentuk penalaran yang lebih
tinggi, lebih positif dan konstruktif, dibandingkan dengan penalaran formal.
Ringkasnya, kebahagiaan spiritual dan intelektual akan bisa
dirasakan atau dialami secara sekaligus jika seseorang mampu memberikan
pembuktian-pembuktian yang bersifat rasional terhadap pengalaman-pengalaman
spiritual dan mistisnya. Semakin luas argumen-argumen rasional yang diberikan,
maka kualitas spiritualpun akan semakin tinggi. Sebab apa yang diakui sebagai
pengalaman spiritual, sesungguhnya akan menjadi semakin tinggi kualitasnya jika
intelek mengetahui secara persis mengenai seluk-beluk semacam itu. Semua itu
hanya bisa dialami melalui keseluruhan diri manusia secara utuh, dan hanya manusia
seutuhnya yang bisa mengalaminya, yaitu ketika pikiran telah terintegrasi ke
dalam keseluruhan diri manusia, yang terpusat pada kalbu.
2.
Gradasi
Wujud (tasykik al-wujud)
Mulla Shadra berpendapat bahwa semesta ini bukan hanya ilusi tetapi
benar-benar mempunyai eksistensi sama seperti eksistensi Tuhan. Namun demikian
Shadra tidak menyimpulkan sebagai wahdat al-wujud, tetapi mengajukan tasykik
al-wujud sebagai solusinya, yakni eksistensi itu mempunyai gradasi yang
kontinu. Jelasnya, menurut Sadra, dari ada Mutlak hingga Tiada Mutlak terdapat
gradasi “ada-ada nisbi” yang tidak terhingga. Dengan kata lain, realitas ini
terbentang dari kutub Tiada Mutlak sampai kutub Ada Mutlak dengan perbedaan
tingkat kualitas dan intensitasya. Inilah pandangan kesatuan realitas versi
Mulla Shadrayang disebut “Hikmah al-Muta’aliyah”. Menurut Arhamedi Mazhar,
pandangan ini merupakan sintesa besar antara teologi, filsafat dan mistik.]
Dalam perspektif al-Hikmah al-Muta’aliyah, wujud merupakan suatu
realitas tunggal yang dalam ketunggalannya memiliki tingkatan dan bergradasi.
Gagasan ini berlawanan dengan filsafat peripatetik yang beranggapan bahwa
wujud-wujud di alam secara esensial berbeda satu dengan lainnya dan tidak
memiliki unsur kesamaan. Yang ada di alam adalah kejamakan maujud bukan
kesatuan wujud. Perspektif ini berbeda dengan konsep para sufi dan arif tentang
kesatuan wujud yang individual (wahdah al-syakhsh al-wujud). Mereka menolak
secara mutlak ide kejamakan wujud.
Gradasi wujud dalam filsafat Mulla Shadra ditopang oleh dua unsur,
yakni kesatuan wujud dan kejamakan wujud. Sementara gradasi cahaya dalam
filsafat Suhrawardi hanya ditopang oleh satu unsur, yakni kejamakan cahaya.
Cahaya tidaklah tunggal, melainkan jamak dan bergradasi. Gradasi cahaya
bersifat vertikal sebagaimana dalam gradasi wujud.
3.
Gerak
Subtansial (al-harakah al-jauhariyah)
Teori Gerak Subtansial
(al-harakah al-jauhariyah), adalah sumbangan orsinil Mulla Shadraterhadap
filsafat Islam. ajaran ini merupakan uraian lebih lanjut dari pandangan Sadra
bahwa gradasi wujud tidak bersifat statis tetapi dinamis, bergerak dari
eksistensi tingkat rendah menuju eksistensi tingakat tinggi. Mulla
Shadramemperlihatkan bahwa berdasarkan prinsip-prinsip Aristotalion tentang
materi dan bentuk, harus diterima bahwa substansi alam semesta senantiasa
bergerak, tidak pernah terdapat kekonstan sesaat dan keseragaman bentuk dalam
substansi alam. Aksiden-aksiden (yaitu sembilan kategori yang lain), sebagai
fungsi dan substansi, juga berada dalam gerak. Menurut Mulla Shadra, alam sama
dengan gerak, dan gerak sama dengan penciptaan dan pemusnahan yang tidak
henti-henti dan berjalan terus menerus
Kontribusi Mulla Shadra
dalam gerakan substansial (al-Harakah al- Jawhariyah) melengkapi para filosof
sebelumnya, diman mereka berepndapat bahwa gerakan hanya terjadi pada empat
kategori aksiden; kuantitas (kammiyat), kualitas (kaifiyyat), posisis (wadh’)
dan tempat (‘ayn). Dengan kata lain, substansi tidak berubah tetapi hanya empat
kategori akseden yang berubah. Karena kalau substansi berubah kita tidak dapat
menetapkan judgment tentangnya. Begitu kita mengeluarkan judgment, ia sudah
berubah menjadi yang lain.
Mulla Shadraberpendapat
bahwa disamping perubahan pada empat kategori aksiden, gerak juga terjadi pada
substansi. Kita melihat bahwa dalam dunia eksternal perubahan benda material
dan keadaan yang satu kepada keadaan yang lain. Buah apel kembali dari hijau
tua ke hijau muda, kemudian kuning, lalu merah. Ukuran rasa, berat juga selalu
mengalami perubahan. Karena eksistensi aksiden bergantung pada eksistensi
substansi, maka perubahan aksiden akan menyebabkan perubahan pada substansi
juga. Semua benda material bergerak. Gerakan ini berasal dari penggerak pertama
yang immaterial, menuju penyempurnaan yang non-material dan berkembang menjadi
sesuatu non-material. Dalam hubungna inilah Mulla Shadra mempertahankan sifat
huduts dari dunia fisik, sifat tidak permanen dari esensi materi, dan waktu
sebagai dimensi materi keempat; sebagai suaut ukuran kuantitas gerak. Sebab
mendasar yang menjadikan akseden dalam bergerak adalah nilai hudutsnya wujud
dan waktu yang menjadikannya sebagai tempat kebaruannya.
V. Pemikiran
Filsafat Muhammad Iqbal dan Ibnu Arobi dan corak pemikirannya
PEMIKIRAN FILSAFAT ISLAM
MUHAMMAD IQBAL
1.Pemikiran Filsafat M. Iqbal tentang Manusi
Manusia menurut M. Iqbal pembagian satu kesatuan hidup dan
kesadaran juga sebagai kesatuan energi, daya, atau kombinasi dari daya-daya
yang membentuk beragam susunan. Filsafat Iqbal pada intinya adalah filsafat
manusia yang bicara tentang diri atau ego.
Menurut Iqbal ego adalah kesatuan intuitif atau titik kesadaran
pencerah yang menerangi pikiran, perasaan, dan kehendak manusia.. Watak
esensial ego, sebagaimana halnya ruh dalam konsepsi Islam adalah memimpin
karena ia bergerak dari amr (perintah) Ilahi. Artinya realitas eksistensial
manusia terletak dalam sikap keterpimpinan egonya dari yang Ilahi melalui
pertimbngan-pertimbangan, kehendak-kehendak, tujuan-tujuan, dan apresiasinya.
Dalam konteks
inilah Iqbal terlebih dahulu menyerang tiga pemikiran tentang ego, yaitu :
1. Panteisme yang memandang ego manusia sebagai noneksistensi
sementara eksistensi sebenarnya adalah ego absolut atau Tuhan. Sufisme
pantaistik mengalami kesulitan filosofis karena salah pengertian tentang watak
sebenarnya dari diri yang relatif, bagi Iqbal tafsir yang benar dari ungkapan
Al-Hallaj “Anna al-Haqq” adalah penegasan berani tentang realitas dan
kemutlakan diri manusia dalam satu kepribadian mendalam. Diri adalah engalaman
terakhir yang nyata. Oleh sebab itu penemuan diri adalah puncak pengalaman
religius, sebab diri itulah yang mengadakan relasi dengan realitas ultim.
Pengalaman menuju penemuan tersebut merupakan fakata vital-bukan intelektual
karena berasal dari kehidupan esoteris yang bersifat supralogis.
2. Aliran lain yang menolak adanya ego adalah empirisme. Empirisme
menurut David Huma memandang konsep ego yang proses pengalaman-pengalaman yang
datang silih berganti adalah sekedar penemuan (nominalisme) ketika yang nyata
adalah pengalaman yang datang silih berganti dan bisa dipisahkan secara atomis.
3. Rasionalisme menurut Cartesian yang masih melihat ego sebagai
konsep yang diperoleh melalui penalaran dubium methodicum: “semuanya bisa
kuragukan kecuali adanya aku yang sedang ragu-ragu karena meragukannya berarti
memepertegas keberadaannya”. Iqbal menolak pendapat Kant yang mengatakan bahwa
ego yang terpusat, bebas, dan kekal hanya dapat dijadikan postulat bagi
kepentingan moral. Bagi Iqbal keberadan ego yang unified, bebas dan kekal bisa
diketahui secara pasti dan tidak sekedar pengandaian logis.
Suatu momen, seperti dikatakan kierkegard, tatkala manusia harus
memeilih beriman atau tidak beriman yang saat itu juga manusia disadarkan bahwa
ia sendiri yang harus menentukan pilihannya bukan karena institusi agamanya
atau rasionalitas yang menghendakinya melainkan “aku” sendiri
menghendakinya. Dalam hal ini
Iqbal secara tajam mengungkapakan, Tuhan sendiri tidak dapat merasakan,
mempertimbangkan, dan memilih buatnya bilamana lebih dari satu jalan bertindak
ada terbuka buat saya.
Kehendak kreatif menurut Bergson dan Nietzsche mengartikan kehendak
kreatif sebagai khaotis, buta, dan tanpa tujuan. Iqbal menolak pandangan
tersebut dengan mengatakan kehendak kreatif adalah sesuatu yang bertujuan,
yaitu diri selalu bergerak kesatu arah. Secara intuitif menusia menyadari bahwa
kehendakanya memiliki tujuan karena bila tanpa tujuan makna kehendak menjadi
saran.
Tujuan tersebut bukan ditetapkan oleh hukum sejarah maupun takdir
sebagai pre-conceived plan dari Tuhan. Dalam upayanya mencapai individualitas
yang kaya dan kuat, ego akan tumbuh dalam suatu proses evolusi kreatif. Ego
adalah sumber yang takkan pernah habis terkuras. Untuk itulah setiap individu
harus membuka dirinya dan siap mengahadapi segala tantangan dan pengalaman
dalam bentuk apa pun. Manusia yang menolak aktivitas ego berarti menolak hidup
Iqbal menolak pantaisme yang menekankan kepasifan, penolakan ego
sebagai keutamaan dan sebagai gantinya ia menekankan bahwa diri otentik adalah
diri yang kuat, bersemangat, otonomi itulah yang mempertinggi kualitas diri.
Manusia berbeda dengan binatang yang motivasi perilakunya semata-mata
ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan material (urusan perut) melainkan manusia
memiliki kehendak bebas yang menolak ditundukkan dalam suatu pola kausalitas.
Dengan demikian Iqbal menolak bahwa prilaku manusia ditentukan oleh suatu
tujuan yang bukan ditentukannya sendiri seperti hukum besi sejarah ataupun
takdir.
Menurut Iqbal ada dua cara manusia untuk menguasai takdir yaitu
pertama Intelektual dengan memahami dunia sebagai sistem tegas dari
sebab-sebab. Kedua dengan cara vital dengan penerimaan mutlak dari kemestian
yang tak terhindarkan dari hidup. Ego bagi Iqbal adalah kausalitas pribadi yang
bebas, ia mengambil bagian dalam kehidupan dan kebebasan Ego Mutlak. Sementara
itu, aliran kausalitas dari alam mengalir kedalam ego dan dari ego kealam.
Karena itu ego dihidupkan oleh ketegangan interaktif dengan lingkungan. Menurut
ia juga nasib sesuatu tidak ditentukan oleh sesuatu yang berkerja diluar.
Takdir adalah pencapaian batin oleh sesuatu, yaitu kemungkianan-kemungkinan
yang dapat direlisasikan yang terletak pada kedalaman sifatnya.
Untuk memperkuat ego
dibutuhkan cinta (intuisi) dan ketertariakan, sedangkan yang memperlemahnya adalah
ketergantungan pada yang lain. Untuk mencapai kesempurnaan ego maka setiap
individu pasti menjalani tiga tahap :
a. Setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar tunduk
kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum Ilahiah.
b. Belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan
dirinys melalui rasa takut dan cinta kepada Tuhan seraya tidak bergantung pada
dunia.
c. Menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai kesempurnaan
spiritual (Insan Kamil).
2. Pemikiran
Filsafat M. Iqbal tentang Tuhan
Dapat dibagi dalam tiga fase. Adapun dasar yang dipakai dalam
pengelompokan tersebut adalah keaslian dan keterpengaruhan pemikiran Iqbal
tersebut mengenai konsepsi Tuhan.
Fase pertama berlangsung mulai dari tahun 1901M hingga kira-kira
tahun 1908M, pada fase ini Iqbal meyakini Tuhan sebagai suatu keindahan yang
abadi, yang ada tanpa tergantung pada dan mendahului segala sesuatu dan karena
itu menampakkan diri dalam semua itu. Ia menyatakan dirinya dilangit dan
dibumi, dimatahari dan dibulan, pada kerlap kerlip bintang –bintang dan
jatuhnya embun ditanah dan dilaut, diapi dan nyalanya, di batu-batu dan
pepohonan, pada burung-burung dan binatang buas, diwewangian dan nyanyian,
tetapi dimana pun ia menunjukkan diri tidak lebih daripada yang nampak di mata
Salimah, bahkan sebagaimana pada Dante; dimana pun, ia menampakkan diri tidak
lebih dari pada yang tampak pada Beatrice. Seperti halnya besi ditarik oleh
magnet, demikian pula segala sesuatu ditarik oleh Tuhan.
Demikianlah, Tuhan sebagai keindahan Abadi adalah penyebab gerak
segala sesuatu. Kekuatan pada benda-benda, daya tumbuh pada tanaman, naluri
pada binatang buas dan kemauan pada manusia hanyalah sekedar bentuk daya tarik
ini, cinta untuk Tuhan ini. Karena itu, Keindahan Abadi adalah sumber, essensi
dan ideal segala sesuatu. Tuhan bersifat universal dan melingkupi segalanya
seperti lautan, dan individu adalah seperti halnya setetes air. Demikianlah,
Tuhan adalah seperti matahari dan individu adalah seperti lilin, dan nyala
lilin hilang di tengah cahaya. Seperti balon atau bunga api, kehidupan ini
bersifat sementara tidak hanya itu bahkan keseluruhan mewujudtan atau
eksistensi adalah suatu yang fana.
Secara umum telah dikemukakan tentang kosepsi Iqbal tentang Tuhan
pada fase pertama seperti termuat diatas. Pemikiran seperti ni tidak sulit
dicari sumbernya, pada dasarnya pemikiran seperti ini bersifat platonis. Plato
juga menganggap Tuhan sebagai keindahan yang Abadi, sebagai alam universal yang
medahului segala sesuatu serta terwujud pada kesemuanya itu sebagai bentuk.
Plato juga menganggap, Tuhan sebagai ideal tujuan manusia. Ia juga memisahkan
cinta dari pengertian seks dan memberinya makn universal, konsep platonis ini
sebagaimana yang diunghkapkan oleh Plaonus diambil alih oleh kaum skolastik
Muslim awal dan dicangkokkan ke dalam pantheisme oleh para ,istiukus patheistis
menurut kepada Iqbalk sebagai suatu tradisi lama dalam puisi, parsi dan urdu
ditambah lagi lewat studinya atas puisi-puisi romantis inggris. Sehingga dapat
dikatakan konsepsi Iqbal mengenai Tuhan pada fase pertama ini tidak asli.
Secara sederhana ia menunjukkan kepada kita apa yang ia terima sebagai warisan
sejarah lewat kata-kata yang Indah. Ia menjadikan ide keTuhanan ini sebagai
bahan puisi-puisinya dengan berbagai cara baru.
Masa kedua perkembangan pemikiran Iqbal bermula kira-kira tahun
1908-1920 M. kunci untuk memahami masa ini adalah perubahan sikap Iqbal kearah
perbedaan yang ia tarik antara keindahan sebagaimana tampak pada segala
sesuatu, disatu pihak dan cinta kepada keindahan dipihak lain. Sebagaimana
telah dicatat bahwa Iqbal menyebut keindahan sebagai sesuatu yang kekal dan
efisien serta kausalitas akhir dari segala cinta, gerakan dan keinginan. Tetapi
pada masa kedua, sikap ini mengalami perubahan.
Pertama, suatu kesangsian dan kemudian berubah menjadi semacam
psimisme yang menyelinap ke dalam dirinya mengenai sikap kekal dari keindahan
dan efisiensinya serta kausalitas. Pada fase ini pemikirannya dibimbing oleh
konsep tentang pribadi(self)yang dianggap sebagai pusat dinamis dari hasrat,
upaya, aspirasi, usaha ,keputuisan ,kekuatan dan aksi. Pribadi tidak maujud
dalam waktu, melainkan waktulah yang merupakan dinamisme dari pribadi. Pribadi
adalah aksi yang seperti pedang merambah jalannya dengan menaklukkan kesulitan,
halangan dan rintangan.Waktu sebagai aksi adalah hidup dan hidup adalah pribadi
karena itu waktu hidup dan pribadi ketiganya dibandingkan dsengan pedang.
Yang disebut dengan dunia luar dengan segala macam kekayaannya yang
menggairahkan termasuk ruang dan waktu serial dan apa yang disebut dengan dunia
perasaan, ide-ide dan ideal-ideal keduanya adalah ciptaan pribadi mengikuti
fichte dan ward, Iqbal menyatakan kepada kita bahwa pribadi menuntut dari
dirinya sendiri sesuatu yang bukan pribadi demi kesempurnaannya sendiri.Dunia
yang terindera adalah ciptaan pribadi. Karena itu segala keindahanm alam
merupakan bentukan hasrat-hasrta kita sendiri. Hasrat menciptakan
mereka,bukannya mereka yang mempunyai hasrat.
Tuhan sang hahekat terakhir adalah pribadi mutlak, ego tertinggi.
Ia tidak lagi dianggap sebagai keindahan luar. Tuhan kini dianggap sebagai
kemauan abadi dan keindahan disusutkan menjadi suatu sifat Tuhan, menjadi
sebutan yangs ekarang mencakup nilai-nilai estetisdan nilai-nilai moral
sekaligus. Disamping keindahan Tuhan, pada tahap ini keesaan tampak menunjukkan
nilai pragmatis yang tinggi karena ia memberi kesatuan tujuan dan kekuatan pada
individu, bangsa-bangsa dan manusia sebagai keseluruhan kekuatan yang mengikat,
menciptakan hasrat yang tak kunjung padam, harapan dan aspirasi dan
menghilangkan semua rasa gentar dan takut kepada yang bukan Tuhan.
Tuhan menyatakan dirinya bukan dalam dunia yang indera melainkan
dalam pribadi terbatas, dan karenma itu usaha mendekatkan diri padanya hanya
akandimungkinkan lewat pribadi. Dengan demikian mencari tuhan bersifat
kondisional terhadap pencarian diri sendiri. Demikian pula tuhan tidak bisa
diperoleh dengan meminta-minta dan memohon semata-mata karena hal seperti itu
menunjukkan kelemahan dan ketidak berdayaan. Mendekati tuhan menurutnya harus
konsisten dengan kekuatan dan kemauan sendiri. Ia harus menangkap DIA dengan
cara sama seperti seorang pemburu menangkap buruannya. Tetapi Tuhan juga
menginginkan diriNya tertangkap. Ia mencari manusia seperti manusia mencari Dia.Dengan
menemukan Tuhan seseorang tidak boleh membiarkan dirinya terserap ke dalam
Tuhan dan menjadi tiada. Sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam
dirinya, menyerap sebanyak mungkin sifat-sifatNya dan kemungkinan ini tidak
terbatas. Dengan menyerap tuhan kedalam diri maka tumbuhlah ego. Ketika ego
tumbuh menjadi super ego, ia naik ketingkat wakil Tuhan.
Masa ketiga perkembangan mental dan pemikiran Iqbal dimulai sejak
tahun 1920 hingga tahun 1938 dimana tahun wafatnya Iqbal. Masa ketiga ini dianggap
sebagai masa kedewasaan dari pemikiran Iqbal itu sendiri. Ia mengumpulkan
unsur-unsur dari sintesisnya dan kini menghimpunnya dalam suatu sistem yang
menyeluruh.
Menurutnya Tuhan adalah hakikat sebagai suatu keseluruhan dan
hakikat sebagai suatu keseluruhan pada dasarnya bersifat spiritual dalam artian
suatu Individu dan suatu ego. Ia dianggap sebagai ego karena seperti manusia,
Dia adalah suatu prinsip kesatuan yang mengorganisasi, suatu paduan yang
terikat satu sama lain yang berpangkal pada fitrah kehidupan organisme-Nya
untuk suatu tujuan konstruktif. Ia adalah ego karena menanggapi refleksi kita.
Karena ujian yang paling nyata pada suatu pribadi adalah apakah ia memberi
tanggapan kepada panggilan pribadi yang lain.[3] Tepatnya, Dia bersifat mutlak
karena Dia meliputi segalanya, dan tidak ada sesuatu pun diluar Dia.
Ego mutlak tidaklah statis seperti alam semesta sebagaimana dalam
pandangan Aristoteles. Dia adalah jiwa kreatif, kemauan dinamis atau tenaga
hidup dan karena tidak ada sesuatu pun selain Dia yang bisa membatasiNya, maka
sepenuhnya Dia merupakan jiwa kreatif yang bebas. Dia juga tidak terbatas.
Tetapi sifat tidak terbatasNya bukanlah dalam arti keruangan, karena ketidak
terbatasan ruang tidak bersifat mutlak. Ketidak terbatasan Nya bersifat
intensif bukan ekstensif dan mengandung kemungkinan aktivitas kreatif yang
tidak terbatas. Tenaga hidup yang bebas dengan kemungkinan tak terbatas
mempunyai arti bahwa Dia Maha Kuasa.Dengan demikian Ego terakhir adalah tenaga
yang maha kuasa, gerak kedepan yang merdeka,suatu gerak kreatif.
Pemikiran
Filsafat Ibn ‘Arabi
1.
Konsep Tentang Wahdatul Wujud
Dalam kitabnya
Al-Futuhat Al-Makkiyah Ibnu ‘Arabi menuturkan bahwa Allah adalah “wujud mutlak“
yaitu zat yang mandiri, yang keberadaan-Nya tidak disebabkan oleh sesuatu apa
pun. di halaman lain dari kitab futuhat dia menulis “ pertama-tama yang harus
diketahui bahwa Allah SWT adalah zat yang awal, yang tidak ada sesuatu pun
mendahului-Nya tidak ada sesuatupun yang awal bersama-Nya, Dia ada dengan
sendiri-Nya, tidak membutuhkan sesuatu selain Dia. Dia adalah Tuhan yang maha
Esa, yang tidak berhajat pada alam semesta.
Ibnu ‘Arabi dikenal dengan pembawa ajaran wahdat al-wujud (kesatuan
wujud) yang menyatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu yaitu hanya ada satu
wujud yang sejati, yakni Allah SWT (al-Haqq). Sedang alam ini tidak lain adalah
sekedar dari manifestasi (tajalliat) dari wujud yang sejati tersebut yang pada
dirinya (alam) tidak memilki wujud sejati tau mutlak seperti Tuhan. Hubungan
wujud sejati (Tuhan) dengan alam digambarkan lewat wajah dengan gambar, wajah
itu muncul dari sejumplah cermin. Ibnu ‘Arabi pernah berkata wajah itu satu
tetapi cermin seribu, sehingga wajah yang sejati itu terpantul dalam ribuan
cermin, dan karena kaulitas dan posisi cermin berbeda antara satu cermin dengan
cermin yang lain, maka pantulan wajah sama dan satu itu pun tampak
berbeda-beda. itulah sebabnya. maka sekalipun Tuhan itu esa tetapi pantulannya
(yaitu alam semesta) beraneka dan berjenis jenis.
Inti ajaran Tasawuf wahdatul wujud diterangkan Ibnu Arabi dengan
menekankan pengertian kesatuan keberadaan hakikat (unity of existence).
Maksudnya, seluruh yang ada, walaupun tampaknya, sebenarnya tidak ada dan
keberadaannya bergantung pada Tuhan Sang Pencipta. Yang tampak hanya
baying-bayang dari Yang Satu (Tuhan). Seandainya Tuhan, yang merupakan sumber
bayang-bayang, tidak ada, yang lain pun tidak ada karena seluruh a lam ini
tidak memiliki wujud. Yang sebenarnya memiliki wujud hanya Tuhan. Dengan kata
lain, yang ada hanya satu" wujud, yaitu wujud Tuhan, sedangkan yang
lainnya hanya merupakan bayang-bayang.
Ibnu ‘Arabi menggambarkan bentuk tajalli dengan simbol wajah dengan
cermin, diibaratkan semisal kita ingin melihat wajah kita, kita tidak dapat
melihatnya kecuali dalam cermin, yang nantinya kelihatan dalam cermin kelihatan
gamblang dan jelas, tetapi kita tahu bahwa satu-satunya wajah yang riel adalah
yang ada pada diri kita, bukan yang terpantul dalam cermin. Karena yang ada
dalam cermin hanyalah sebuah bayangan.
Ibnu ‘Arabi menjelaskan bahwa wujud menjadi nyata oleh karena Tuhan
sebagai yang zhahir memperlihatkan dirinya dalam suatu “wadah manifestasi”
yakni di dalam kosmos itu sendiri. Tuhan tidak dapat memperlihatkan dirinya
sebagai yang batin, karena menurut definisi, Tuhan sebagai yang batin tidak
dapat dijangkau dan diketahui di dalam kosmos ini.
Setiap makhluk merupakan wadah manifestasi bagi wujud demikian juga
masing-masing adalah bentuk (shurah) dari wujud. tidak ada kosmos dapat
memiliki wujud selain berasal dari al-Haqq, sebuah hadits berbunyi “Bahwa Tuhan
menciptakan Adam menurut bentuknya sendiri. Ibnu ‘Arabi menunjukkan banyak
sekali fakta bahwa hadits menggunakan nama Tuhan-(Allah) yakni nama yang
komprehensif yang menjadi rujukan semua nama selain Tuhan. oleh karena itu
Manusia diciptakan lengkap dengan kemampuan potensialnya untuk menampilkan
Tuhan sebagai Tuhan, yakni Tuhan yang di namai seluruh nama-nya, sementara
makhluk lainnya di dalam kosmos hanya mampu menyuguhkan nama Tuhan tertentu
saja dan terbatas.
Bagi Ibnu ‘Arabi alam semesta adalah penampakan (tajalli) Tuhan,
Tuhan dan alam semesta tidak bisa dipahami kecuali sebagai kesatuan antara
kontradiksi-kontradiksi ontologis. kontradiksi ini tidak hanya bersifat
horisontal tetapi juga vertikal. Hal ini tampak seperti dalam uraian al-Qur’an
bahwa Tuhan adalah yang tersembunyi (al Bathin) sekaligus yang tampak
(al-Dzahir), yang esa (al-Wahid) sekaligus yang banyak (al-Katsir), yang
terdaulu (al-Qadim) sekaligus yang baru (al-Hadits) yang ada (al-Wujud) sekaligus
yang tiada (al-Adam). Dalam pandangan Ibnu ‘Arabi realitas adalah satu tetapi
mempunyai sifat yang berbeda: sifat keTuhanan sekaligus sifat kemakhlukkan,
temporal sekaligus abadi, nisbi sekaligus permanen eksistensi sekaligus non
eksistensi. Dua sifat yang bertentangan tersebut hadir secara bersamaan dalam
segala sesuatu yang ada di alam ini.
Menurut Ibnu ‘Arabi, wujud semua yang ada ini hanya satu dan wujud
makhluk pada hakikatnya adalah wujud Khalik pula. Tidak ada perbedaan antara
keduanya (Khalik dan makhluk) dari segi hakikat. Adapun kalau ada yang mengira
bahwa antara wujud Khalik dan makhluk ada perbedaan, hal itu dilihat dari sudut
pandang panca indra lahir dan akal yang terbatas kemampuannya dalam menangkap
hakikat yang ada pada Dzat-Nya dari kesatuan dzatiyah yang segala sesuatu
berhimpun pada-Nya. Hal ini tersimpul dalam ucapan Ibnu ‘Arabi sebagai berikut:
“Maha suci Tuhan yang lelah
menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu itu”
Menurut Ibnu ‘Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah
dan Allah adalah hakikat alam. Tidak ada perbedaan antara wujud yang qadim yang
disebut Khalik dengan wujud yang baru yang disebut makhluk. Tidak ada perbedaan
antara abid (penyembah) dengan ma 'bud (yang disembah). Bahkan antara yang
penyembah dan yang disembah adalah satu. Perbedaan itu hanya pada rupa dan
ragam. Ibnu ‘Arabi mengemukakan nya Kalau antara Khalik dan makhluk bersatu
dalam wujudnya, mengapa terlihat dua? Ibnu ‘Arabi menjawab, sebabnya adalah
manusia tidak memandangnya dari sisi yang satu. tetapi memandang keduanya
dengan pandangan bahwa keduanya adalah Khalik dari sisi yang satu dan makhluk
dari sisi yang lain. Jika mereka memandang keduanya dari sisi yang satu, atau
keduanya adalah dua sisi untuk hakikat yang satu, mereka pasti akan dapat
mengetahui hakikat keduanya, yakni Dzatnya satu yang tidak terbilang dan
berpisah.
Paham wahdatul wujud timbul dari filsafat bahwa Tuhan ingin melihat
diri-Nya di luar diri-Nya. Kemudian diciptakanlah alam sebagai cermin yang
merefleksikan gambaran diri-Nya. Setiap kali ingin melihat diri-Nya, Dia
melihat alam karena pada setiap benda alam terdapat aspek al-Haqq. Jadi,
walaupun segala benda ini kelihatannya banyak, sebenarnya yang ada hanya satu
wujud, yaitu al-Haqq.
Untuk menjelaskan ontologis Tuhan dan alam semesta, Ibnu ‘Arabi
menggunakan simbol cermin, alam semesta sebagai cermin bagi Tuhan. simbol ini
pertama. untuk menjelaskan sebab penciptaan alam yakni bahwa penciptaan alam
ini adalah sarana untuk memperlihatkan diri-Nya. Dia ingin memperkenalkan
dirinya lewat alam. Dia adalah harta simpanan (kanz nahfi) yang tidak bisa
dikenali kecuali lewat alam, sesuai hadits Rasul yang menyatakan hal itu. Kedua
untuk menjelaskan hubungan yang satu dengan yang banyak dan beragam dalam
semesta. yakni Tuhan yang bercermin adalah satu tetapi gambar-nya banyak dan
beragam. Dan apa yang tampak dalam cermin adalah dia, sama sekali bukan
selainya, tetapi bukan Dia yang sesungguhnya.
Penggambaran tersebut sejalan dengan penyatuan dua paradigma
tasybih dan tanzih, imanen dan transenden yang digunakan Ibnu ‘Arabi dari segi
tasybih Tuhan sama dengan alam, karena alam tidak lain adalah perwujudan dan
aktualisasi sifatsifatnya. Dari segi tanzih Tuhan berbeda dengan alam, karena
alam terikat ruang dan waktu sedang Tuhan adalah absolut dan mutlak. Secara
tegas Ibnu ‘Arabi menyatakan “huwa la huwa” (Dia bukan Dia-yang kita bayangkan)
sedekat dekat Manusia menyatu dengan Tuhan, tetapi tidak akan pernah menyatu
dengan Tuhan, ia hanya menyatu dengan asma dan sifat-sifatnya menyatu dengan
bayangan-Nya bukan dengan zat-Nya.
Ibnu ‘Arabi membuat keterkaitan yang sangat jelas manifestasi
sempurna wujud dalam peran Manusia di dalam kosmos. dengan doktrinya yang
terkenal ”manusia sempurna” yakni manusia yang mampu mengaktualisasikan semua
potensialitas batinnya sesuai sifat dan asma Tuhan secara lengkap dan total. Di
satu pihak dalam Manusia sempurna yang sangat berbeda dengan makluk lain.
manusia yang mampu mewujudkan kausalitas yang terpuji. Insan kamil ini menjadi
teladan bagi kebijaksanaan, kasih sayang dan segala kebaikan moral serta
spiritual manusia. Mereka membibing individu dan masyarakat ke tingkatan
tertinggi yakni Tuhan, dan insane kamil bertindak mencerminkan tindakan
al-Haqq, dan mengarahkan kepada kebahagiaan tertinggi di alam akhirat, dalam
manifastasi manuisawinya Ia seperti Nabi dan para auliya’.
Manusia sempurna adalah tujuan Tuhan dalam menciptakan kosmos
tatkala disadari melalui insan kamil lah. Dia dapat menampakkan sifat-sifat-Nya
secara total, hanya di dalam diri insan kamil saja terbentang kesempatan bagi
wujud untuk menggapai kesempurnaan, tidak ada makhluk selain Manusia yang
memiliki kesiapan yang dibutuhkan dalam menampilkan sifat Tuhan. jika wujud di
dalam esensinya yang tidak tampak, maka ia sepenuhnya bukan fenomenalnya, hanya
di dalam diri manusia sempurna (insan kamil) yang sanggup menampilkan setiap
nama Tuhan dalam keselarasan dan keseimbangan secara sempurna.
2.
Konsep Tentang Insan Kamil
Manusia adalah makhluk kecil bila dilihat dari segi fisiologisnya,
betapa tidak, bumi yang kita pijak ini saja tak akan nampak dari ujung Galaksi
Bumi apalagi dilihat dari Galaksi lain justru karena kecilnya ukuran Bumi ini,
apalah kita manusia yang ia barat semut yang merayap dipermukaan bola raksasa
Bumi. manusia ibarat sebuah titik kecil yang berlangsung hanya sedetik. Itulah
kakekat manusia juka dilihat dari sudut ruang dan waktu, Maka seharusnya kita
menyadari betapa tidak berartinya kita (manusia) dalam kosmos yang luas ini
jika dilihat dari fisiologisnya.
Namun manusia yang bisa disebut sebagai mikrokosmos karena pada
diri manusia mengandung seluruh unsur kosmik, dari mulai tingkat mineral sampai
tingkat manusia, bahkan menurut beberapa tokoh, manusia juga mengandung
unsur-unsur rohani, karena manusia juga memilki roh yang berasal dari Tuhan.
Maka apabila masing-masing tingkat wujud tersebut memantulkan sifat-sifat
tertentu dari Tuhan, dan Manusia sebagai cermin yang sempurna yang mampu
berpotensi memantulkan seluruh sifat-sifat Illahi. disitulah manusia disebut
insan kamil, jika manusia dapat mengaktualkan seluruh potensinya yang ada dalam
dirinya dan mampu mencerminkan sifat sifat Tuhan.
Insan kamil (manusia sempurna) adalah istilah yang digunakan oleh
kaum sufi untuk menamakan seorang Muslim yang telah sampai pada keperingkat
tinggi, yaitu peringkat seorang yang telah sampai pada fana’ fillah (sirna di
dalam Allah). Manusia menurut Ibnu ‘Arabi adalah tempat tajalli (penampakan)
diri Tuhan yang paling sempurna, karena Dia adalah al-kaun al-jamil, atau
manusia merupakan sentral wujud, yakni alam kecil (mikrokosmos) yang tercermin
pada alam besar (makrokosmos), dan tergambar kepadanya sifat-sifat keTuhanan.
Oleh karena itulah manusia di angkat sebagai kholifah. pada diri manusia
terhimpun rupa Tuhan dan rupa alam, dimana subtansi Tuhan dengan segala sifat
dan asma-Nya tampak padanya. dia dalam sebuah cermin yang menyingkapkan wujud
Allah SWT.
Secara umum, istilah "insan kamil" sering dimaknai orang
sebagai manusia sempurna. menurut Al-Jilli insan kamil adalah Roh Nabi Muhammad
SAW. yang mengkristal dalam diri para Nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi
Muhammad, lalu para wali dan orang-orang saleh, sebagai cermin Tuhan yang
diciptakan atas nama-Nya dan refleksi gambaran nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Al-Jilli
melihat bahwa insan kamil (manusia sempurna) merupakan nuskhah atau kopi Tuhan,
seperti disebutkan dalam hadis (artinya), "Allah menciptakan Adam dalam
bentuk yang Maha rahman." Hadis lain menyebutkan (artinya), "Allah
menciptakan Adam dalam bentuk diri-Nya."
Menurut Arberry, konsep insan kamil Al-Jilli dekat dengan konsep
hulul Al-Hallaj dan konsep ittihad Ibn Arabi, yaitu integrasi sifat Lahut dan
Nasut dalam suatu pribadi sebagai pancaran dari Nur Muhammad. Adapun Ibnu
'Arabi mentransfer konsep hulul Al-Hallaj dalam paham ittihad ketika
menggambarkan insan kamil sebagai wali-wali Allah, yaitu diliputi oleh Nur
Muhammad SAW. Meskipun Al-Jilli dianggap sebagai tokoh yang memopuler-kan
konsep insan kamil-nya, sesungguhnya konsep insan kamil ini sudah disinggung
sebelumnya oleh Ibnu 'Arabi. Menurut Ibnu 'Arabi, insan kamil adalah
mikrokosmos yang sesungguhnya, sebab Dia memanifestasikan semua sifat dan
kesempurnaan Illahi, dan manifestasi semacam ini tidaklah sempurna tanpa
perwujudan penuh kesatuan hakiki dengan Tuhan. Insan kamil adalah miniatur dari
kenyataan dan yang di maksud insan kamil menurut Ibnu ‘Arabi seperti yang di
jelaskan dalam kitabnya fusus al-hikam adalah:
·
Ain
Al-Haqq, artinya manusia adalah perwujudan dalam bentuknya sendiri dengan segala
keesaanya berbeda dengan segala sesuatu yang lain, meskipun al-Haqq (Tuhan) ain
segala sesuatu, tetapi segala sesuatu itu bukan ain (zat)-nya karena ia hanya
perwujudan sebagian asma-Nya, bukan Tuhan bertajalli (menampakkan diri) pada
sesuatu itu dalam bentuk zat-nya. Dan apabila kamu berkata insan maka maksudnya
adalah manusia sempurna dalam kemanusiaanya, yaitu Tuhan bertajalli
(menampakkan) diri dalam bentuk sifat dan asmanya sendiri itulah yang di sebut
dengan ain-Nya
·
al-insan
al-kamil (Manusia sempurna) dalam pandangan Ibnu ‘Arabi tidak bisa dilepaskan
kaitannya dengan paham adanya Nur Muhammad seperti ditegaskan: ketahuilah
bukanlah yang dimaksudkan dengan al-insan kamil kecuali Nur Muhammad, yaitu roh
Illahi yang dia tiupkan kepada Adam. oleh karenaitu Adam adalah esensi
kehidupan dan awal kejadian manusia. katakanlah Nabi Muhammad SAW adalah insane
kamil yang paling sempurna. (Alhaqiqah al Muhammadiyah.) dan dengan hakekat
Muhammad inilah orang bisa mencapai derajat insan kamil.
Banyak konsep yang menjelaskan tentang sufi diantaranya seperti,
sekumpulan orang-orang yang selalu mengutamakan kepentingan akhirat daripada
kepentingan duniawi dengan melakukan ibadah kepada Allah SWT secara
terus-menerus sehingga mereka merasa kedekatan dengan Tuhannya tidak ada yang
dapat membuat hijab antara mereka dengan sang Khaliq. Sebagian ulama’
berpendapat bahwa sufi merupakan sekumpulan orang-orang yang yang mengasingkan
dirinya dari kehidupan bermasyarakat dan sering berkhlawat di daerah pegunungan
atau suatu tempat yang jauh dari kehidupan duniawi.
Ibnu Arabi merupakan salah seorang ulama’ sufi yang terkenal
dengan sentral ajarannya yang sering disebut dengan istilah wahdat al-wujud yang
bermakna satu kesatuan, maksudnya yaitu antara makhluk dan sang Khalik jika
dilihat dari hakekatnya pada dasarnya satu tidak ada perbedaan. Dengan sang
Khalik sebagai wujud yag hakiki, sedangkan makhluk hanyalah bayangan dari sang
khalik yang menyimpan sifat-sifat dari Allah SWT. Dengan ajaran seperti ini
banyak pertentangan dari ulama’ sufi mengenai ajaran tersebut. Mereka
beranggapan bahwa paham wahdat al-wujud mulai melenceng jauh dari
pemahaman tasawuf pada dasarnya.
Salah satu paham sufi yang terkenal dengan pemaknaan bahwa hubungan
antara makhluk dan Sang Khalik itu adalah satu, merupakan paham yang dibawa
oleh Ibnu Arabi dan yang kemudian akan lebih sering dikenal dengan sebutn wahdat
al-wujud. Banyak kecaman dan gugatan dari sufi yang lainnya mengenai ajaran
ini, dikarenakan inti dari paham ini yaitu yang mengatakan bahwa Allah SWT dan
manusia itu satu pada hakekatnya. Tapi Ibnu Arabi menaggapi pendapatpendapat
terebut dengan menyatakan alas an yang bersifat ekstrim dan sulit dipahamai
oleh pemikiran yang biasa.
[1]. Ahmad Zainul
Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim, Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat
Modern (Yogyakarta:PT.LkiS Pelangi Aksara,2004) h.1-3.
[2] M.M.Syarif,Para
Filosof Muslim,(Bandung: Mizan, 1994) , h. 101
[3] Ahmad Fuad Al
Ahwani, Filsafat Islam (Jakarta:Pustaka Firdaus, 1984) h. 63.
[4] Ibid. h.69.
[5] Van Hoeve, Ensiklopedi,
h.167
[6] Ahmad Hanafi, Pengantar
Filsafat Islam,(Jakarta:PT.Bulan Bintang, 1991), h. 120
[7] Van Hoeve, Ensiklipedi,
h.168
[8] Ibid. h. 168
[9] Nasution, Filsafat, h.75
Komentar
Posting Komentar